JAKARTA – Pinjaman online bisa memberi jalan cepat ketika seseorang membutuhkan uang mendesak. Masalah muncul ketika tanggal jatuh tempo datang, sementara penghasilan tak cukup untuk membayar. Sebagian orang akhirnya mengambil pinjaman baru untuk menutup pinjaman lama. Dari sinilah lingkaran utang mulai terbentuk.
Pola tersebut sekilas terasa seperti solusi. Tagihan lama lunas, penagihan berhenti, dan peminjam mendapat waktu tambahan. Namun, utang sebenarnya tidak hilang. Peminjam hanya memindahkan kewajiban dari satu pinjaman ke pinjaman berikutnya, bahkan berpotensi menanggung biaya yang lebih besar.
Bayar Utang dengan Utang Baru
Bayangkan seseorang memiliki tagihan pinjol Rp2 juta yang harus segera dibayar. Karena tidak memiliki uang, ia mengambil pinjaman Rp2 juta dari layanan lain untuk melunasinya.
Tagihan pertama memang selesai. Namun, kini muncul kewajiban baru Rp2 juta ditambah bunga atau biaya sesuai ketentuan pinjaman. Ketika jatuh tempo berikutnya datang dan kondisi keuangan belum membaik, ia kembali mencari pinjaman untuk membayar tagihan tersebut.
Siklus ini dapat terus berulang.
Masalah utamanya terletak pada arus kas. Selama penghasilan tidak mampu menutup kebutuhan hidup sekaligus pembayaran utang, mengambil pinjaman baru hanya memberi tambahan waktu tanpa menyelesaikan ketimpangan antara pemasukan dan kewajiban.
Bunga dan Biaya Membuat Beban Bertambah
Beban semakin berat ketika setiap pinjaman membawa bunga dan biaya. Peminjam tidak hanya harus mengembalikan uang yang ia terima, tetapi juga memenuhi biaya pinjaman sesuai perjanjian.
Karena itu, strategi gali lubang tutup lubang berisiko membuat seseorang membayar berkali-kali tanpa melihat total utangnya turun secara berarti.
Contohnya, seseorang memiliki penghasilan Rp5 juta per bulan, sementara kebutuhan pokok menghabiskan Rp4 juta. Ia hanya memiliki ruang Rp1 juta untuk membayar utang.
Jika total cicilan pinjol mencapai Rp2 juta setiap bulan, terdapat kekurangan Rp1 juta. Ketika ia menutup kekurangan tersebut dengan pinjaman baru, masalah akan muncul lagi pada bulan berikutnya—ditambah kewajiban dari utang yang baru.
Jebakan Terbesar Ada pada Arus Kas
Inilah alasan sebagian orang merasa sudah berkali-kali membayar tetapi tetap memiliki utang.
Mereka memang mengeluarkan uang untuk membayar cicilan. Namun, pada saat bersamaan mereka kembali menambah pokok utang untuk memenuhi kebutuhan hidup atau melunasi tagihan lain.
Cara memutus siklusnya bukan sekadar mencari pinjaman dengan plafon lebih besar. Peminjam perlu menghentikan pertumbuhan utang baru, mencatat seluruh kewajiban, mengetahui pokok utang serta bunga dan biaya masing-masing, kemudian membandingkan total pembayaran dengan pendapatan yang benar-benar tersedia.
Jika kemampuan membayar sudah tidak mencukupi, peminjam dapat menghubungi penyelenggara pinjaman untuk menanyakan pilihan penyelesaian yang tersedia. Untuk pinjaman daring di Indonesia, masyarakat juga perlu memastikan penyelenggara memiliki izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan memahami seluruh biaya sebelum mengambil pinjaman.
Pada akhirnya, membayar pinjaman dengan pinjaman lain memang dapat menggeser tanggal jatuh tempo. Namun, selama pokok utang dan beban pembayaran tidak turun sementara pendapatan tidak bertambah, lingkaran utang akan sulit terputus. (*)






