Journalist Independent, JAKARTA — Hasil pemeriksaan forensik mengungkap kondisi memprihatinkan bocah berusia 20 bulan yang tewas dibunuh ayah tiri dan ibu kandungnya di kawasan Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Selain mengalami sejumlah luka akibat kekerasan, korban juga diketahui mengalami kekurangan gizi.
Dokter forensik, Asri Megaratri Pralebda, mengatakan kondisi gizi korban tidak sesuai dengan standar normal untuk anak seusianya. Temuan tersebut diperoleh setelah tim medis melakukan pemeriksaan terhadap jasad korban.
“Pada pemeriksaan, kami menemukan keadaan anak tersebut dengan keadaan yang gizinya tidak sesuai dengan usianya, ya kurang dari yang seharusnya normal pada usia tersebut,” kata Asri Megaratri Pralebda, dikutip Selasa (3/11/2026).
Tidak hanya kekurangan gizi, pemeriksaan juga menemukan sejumlah tanda kekerasan pada tubuh korban. Luka tersebut tersebar di beberapa bagian tubuh, mulai dari wajah, perut, dada, hingga keempat anggota gerak.
Asri menjelaskan, luka yang ditemukan tidak seluruhnya berasal dari kejadian terakhir. Tim forensik juga mendapati tanda-tanda kekerasan lama yang menunjukkan korban pernah mengalami cedera sebelumnya.
“Kami juga menemukan beberapa tanda-tanda kekerasan pada daerah wajah, perut, dada, dan keempat anggota gerak. Baik itu kekerasan yang baru maupun kekerasan yang lama,” ujar Asri.
Untuk memastikan kondisi tulang korban, tim forensik juga melakukan pemeriksaan rontgen di Rumah Sakit Polri. Pemeriksaan tersebut bertujuan mengetahui apakah terdapat patah tulang akibat tindakan kekerasan.
Hasil pemeriksaan rontgen dan autopsi menunjukkan temuan yang saling berkaitan. Selain luka pada bagian luar tubuh, tim medis menemukan tanda cedera pada sejumlah organ dalam korban.
“Kami melakukan pemeriksaan rontgen tulang-tulang di Rumah Sakit Polri untuk memastikan adanya kekerasan terhadap tulang, yaitu patah tulang. Dari hasil autopsi juga kami menemukan hal yang sejalan pada saat pemeriksaan luar, yaitu kami menemukan tanda-tanda kekerasan atau cedera pada organ-organ tubuh bagian dalam,” sambungnya.
Kasus pembunuhan tersebut terjadi pada Sabtu (31/10/2026). Korban diduga dihabisi oleh ayah tirinya berinisial AR (22) bersama ibu kandungnya, JM (19).
Kapolsek Kebayoran Lama, Kompol Seala Syah Alam, mengatakan kedua pelaku mengaku melakukan pembunuhan karena alasan ekonomi. Mereka disebut merasa tidak mampu membiayai kehidupan anak tersebut.
“Untuk pembunuhan itu, yang membunuh adalah kedua orang tuanya, ibu kandung dan ayah tiri. Itu kejadiannya itu motif karena ekonomi, mereka tidak mampu,” kata Seala.
Setelah membunuh korban, kedua pelaku kemudian membawa jasad anak tersebut menggunakan kantong plastik. Mereka berjalan kaki menuju kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, untuk mencari lokasi yang akan digunakan menguburkan jasad korban.
Menurut Seala, sebelum menuju lokasi tersebut, keduanya sempat menggunakan taksi daring. Mereka turun di kawasan Palmerah, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga menemukan lahan kosong di Benhil.
“Kedua orang tua itu atau pelaku memesan taksi online, turun di Palmerah, jalan sampai ke Benhil. Benhil, di kiri jalan itu ada lahan kosong. Nah, di situlah dua pelaku mengubur anaknya dengan menggunakan kantong kresek,” ujarnya.
Temuan forensik dalam kasus ini memperlihatkan kondisi korban sebelum meninggal dunia, termasuk kekurangan gizi serta tanda kekerasan yang diduga telah terjadi dalam kurun waktu berbeda. Pemeriksaan terhadap jasad korban juga menemukan cedera pada organ dalam dan indikasi kekerasan terhadap tulang.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian karena korban masih berusia 20 bulan dan diduga mengalami kekerasan berulang sebelum akhirnya meninggal dunia. Polisi menyebut kedua orang tua korban sebagai pelaku pembunuhan dengan motif ekonomi berdasarkan keterangan yang disampaikan kepada penyidik.






