Pasar Batu-Batu Soppeng Sulsel Terbakar, Sisi Tengah Hangus Dilalap Api

Journalist Independent
kebakaran di pasar batu-batu Soppeng
Kebakaran di pasar batu-batu Soppeng, Sulsel. (dok. istimewa)

Kebakaran Pasar Batu-Batu Soppeng menjadi perhatian karena api sempat membesar ketika petugas masih berupaya memadamkannya. Enam armada dari sejumlah wilayah dikerahkan untuk mempercepat penanganan sekaligus mengurangi risiko perambatan api ke bangunan lain.

Sampai Sabtu malam, petugas pemadam kebakaran masih menjalankan tugas di lokasi bersama warga dan aparat keamanan. Belum ada keterangan yang memastikan penyebab kebakaran maupun total kerugian akibat peristiwa tersebut.

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui sumber api, tingkat kerusakan bangunan, serta jumlah kios yang terdampak.

Informasi mengenai kemungkinan korban dalam kejadian ini juga belum tersedia dalam keterangan yang disampaikan petugas dan warga.

Pasar Batu-Batu berada di Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, tidak jauh dari perbatasan Soppeng dan Sidrap. Kebakaran pada Sabtu malam itu menghanguskan bagian tengah pasar yang menurut warga masih berupa bangunan lama.

Petugas kini berfokus memadamkan sisa kobaran dan mencegah api meluas. Perkembangan mengenai kondisi pasar, penyebab kebakaran, serta dampak kerusakan masih menunggu informasi lanjutan dari pihak berwenang.

Alarm Mitigasi Bencana

Kerugian material ditaksir mencapai miliaran rupiah. Sementara itu, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang. Di tengah keprihatinan ini, perhatian terhadap para pedagang terdampak tentu menjadi hal mendesak. Namun, ada pelajaran lain yang tak kalah penting dan tidak boleh berhenti pada simpati sesaat.

Peristiwa ini harus menjadi penanda, peringatan sekaligus alarm keras agar kita lebih mawas diri dan mawas lingkungan.

Kebakaran dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Akan tetapi, besarnya dampak bencana dapat ditekan apabila masyarakat dan pemerintah memiliki kesiapan yang memadai.

“Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan petugas pemadam kebakaran setelah api telanjur membesar. Respons petugas memang sangat penting, tetapi upaya pencegahan,” kata warga Soppeng.

Baca Juga  Kecelakaan Maut di Labuhanbatu Tewaskan Empat Orang, Dua Motor Terbakar

Karhutla Perlu Diwaspadai di Tengah Kemarau Panjang

Musim kemarau mulai meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sulawesi Selatan. Salah satu kebakaran yang terjadi di kawasan Gunung Nona, Kabupaten Enrekang, bahkan dilaporkan telah menghanguskan sekitar 10 hektare lahan.

Kondisi kekeringan juga memicu munculnya sejumlah titik kebakaran di wilayah Luwu Raya, Ajatappareng, Toraja, Gowa, hingga Parepare.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sulawesi Selatan Kasman mengatakan hampir seluruh wilayah Sulsel saat ini menghadapi kondisi kekeringan yang membuat serasah dan semak kering lebih mudah terbakar.

“Kalau masalah rawan, sebenarnya tergantung kondisi wilayah dan cuacanya. Saat ini hampir semua wilayah di Sulsel mengalami kekeringan, sehingga serasah dan semak yang kering sangat rentan terbakar,” kata Kasman di Kantor Gubernur Sulsel, Kamis (20/8/2026).

Meningkatnya risiko karhutla tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memperkuat langkah mitigasi melalui patroli, posko kesiapsiagaan, serta koordinasi dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, hingga Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

Menurut Kasman, sejumlah titik kebakaran yang muncul dalam beberapa waktu terakhir telah berhasil dipadamkan. Namun, petugas masih melakukan monitoring dan pendataan untuk mengetahui luasan lahan yang terdampak. (na)