Kapolri Minta Dukungan Fatwa MUI Haramkan Rokok Elektrik, Berikut Bahaya Vape

Journalist Independent
Kapolri Temui MUI Pusat di Jakarta bahas vape
Kapolri Jenderal Suyudi melakukan kunjungan silaturahim ke Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. (dok. MUI)

Belakangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis temuan baru soal dampak vape bagi kesehatan. BRIN menyebutkan, sekitar 92 persen sampel penelitian mengalami gangguan paru-paru, sementara seluruh sampel terdeteksi mengalami diabetes.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, berdasarkan pengujian yang dilakukan BRIN, penggunaan vape memiliki dampak terhadap kesehatan seperti diabetes dan paru-paru. “Vape ini secara medis, dari uji yang dilakukan oleh BRIN, berdampak kepada kesehatan, satu masalah diabetes, kemudian masalah paru-paru, kemudian yang ketiga juga masalah pankreas,” kata Arif dikutip dari Kompas, Sabtu (10/10/2026).

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dr. Yogo Pardi Wibowo, Sp.PD., turut meluruskan, temuan BRIN tetap baik untuk dijadikan bahan landasan, namun angka 100 persen dan 92 persen belum dijelaskan spesifik bagaimana proporsi yang ditemukan pada sampel yang diperiksa.

“Angka temuan BRIN bukan prevalensi yang dapat diambil generalisasi kepada seluruh pengguna vape. Namun, bukan berarti vape dapat dianggap aman, karena memang ada bukti ilmiahnya bahwa vape berdampak pada kesehatan tubuh,” jelas Yogo secara daring, Sabtu (10/10/2026).

Resistensi Insulin karena Vape

Berbagai penelitian internasional yang Yogo pelajari menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan vape dengan gangguan metabolik dan sistem pernapasan.

“Salah satu meta-analisis yang melibatkan lebih dari 2,8 juta partisipan menemukan bahwa pengguna vape memiliki risiko lebih tinggi mengalami resistensi insulin, dibandingkan mereka yang tidak pernah menggunakan vape,” kata dokter spesialis penyakit dalam itu.

Picu Diabetes

Resistensi insulin, lanjut Yogo, merupakan kondisi ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons hormon insulin secara optimal. Akibatnya, gula darah lebih sulit masuk ke dalam sel sebagai sumber energi sehingga kadar glukosa di dalam darah meningkat. Kondisi ini dikenal sebagai tahap awal menuju prediabetes dan diabetes.

“Pada pengguna vape, nikotin dapat mengganggu jalur persinyalan insulin di jaringan tubuh. Di saat yang sama, paparan nikotin memengaruhi mitokondria serta sel beta pankreas yang bertugas memproduksi insulin,” terangnya.

Saat cairan vape dipanaskan, pelarut seperti propylene glycol dan vegetable glycerin akan menghasilkan berbagai senyawa reaktif, termasuk reactive oxygen species (ROS) dan senyawa karbonil beracun. Yogo menjelaskan, kedua zat ini memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkannya.

Stres oksidatif kemudian memicu peradangan kronis pada tingkat sel dan mengganggu kemampuan tubuh menggunakan insulin secara efektif. Meski demikian, Yogo menegaskan bukti ilmiah saat ini belum cukup untuk menyatakan vape sebagai penyebab tunggal diabetes.

“Yang lebih kuat ditunjukkan penelitian adalah meningkatnya risiko resistensi insulin dan prediabetes. Risiko diabetes yang signifikan justru lebih banyak ditemukan pada pengguna ganda, yaitu mereka yang menggunakan vape sekaligus merokok konvensional,” katanya.

Bahaya Vape bagi Organ Lain