Jika gangguan metabolik berkembang secara perlahan, paru-paru menjadi organ pertama yang langsung menerima paparan aerosol vape setiap kali seseorang mengisapnya.
Berbeda dengan anggapan umum bahwa vape hanya menghasilkan “uap air”, aerosol yang dihasilkan sebenarnya membawa berbagai zat kimia yang masuk hingga ke saluran napas terdalam.
Menurut Yogo, penelitian memang menunjukkan penggunaan vape dapat meningkatkan tahanan jalan napas dan memicu peradangan. Namun, perubahan fungsi paru jangka panjang masih terus dipelajari karena dipengaruhi banyak faktor, seperti durasi penggunaan, jenis perangkat, kandungan cairan, hingga apakah pengguna juga merokok konvensional.
Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan penggunaan vape dengan meningkatnya risiko asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury (EVALI), yakni cedera paru akut yang pernah menjadi perhatian dunia beberapa tahun terakhir.
“Artinya, meski seseorang belum merasakan sesak napas, proses peradangan dapat saja telah berlangsung di dalam saluran pernapasan,” kata Yogo.
Banyak orang mengira nikotin merupakan satu-satunya zat berbahaya dalam vape. Padahal, menurut Yogo, risiko datang dari berbagai komponen yang ikut terhirup.
Nikotin tetap menjadi zat utama yang perlu diwaspadai karena bersifat sangat adiktif. “Zat ini merangsang sistem saraf simpatis sehingga memicu peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, mengganggu fungsi pembuluh darah, serta memengaruhi metabolisme glukosa,” sebutnya.
Lebih lanjut, kawat pemanas pada perangkat vape dapat melepaskan logam berat seperti nikel, timbal, kadmium, dan kromium ke dalam aerosol yang dihirup pengguna. Paparan logam-logam tersebut diketahui berkaitan dengan stres oksidatif, kerusakan ginjal, bahkan memiliki potensi karsinogenik.
Belum lagi hasil pemanasan cairan vape yang menghasilkan aldehida berbahaya seperti formaldehida, asetaldehida, dan akrolein. Senyawa-senyawa ini mampu merusak sel epitel saluran napas, mengganggu mekanisme pembersihan paru, serta memperkuat proses inflamasi.
Popcorn Lung
Bahkan, beberapa bahan perasa tertentu, seperti diasetil, dikaitkan dengan risiko terbentuknya jaringan parut pada saluran napas kecil atau yang dikenal sebagai popcorn lung.
Paru-paru dan pankreas bukan satu-satunya organ yang terdampak. Yogo menjelaskan, paparan aerosol vape juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular. Nikotin menyebabkan lonjakan tekanan darah, meningkatkan denyut jantung, serta membuat pembuluh darah menjadi lebih kaku. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut meningkatkan beban kerja jantung.
Di rongga mulut, aerosol vape mengubah keseimbangan mikrobioma sehingga meningkatkan jumlah bakteri penyebab penyakit gusi. Akibatnya, pengguna lebih rentan mengalami radang gusi, bau mulut, hingga kerusakan jaringan penyangga gigi.
Sementara itu, pada sistem saraf pusat, nikotin dan berbagai senyawa kimia dalam aerosol diduga dapat mengganggu integritas blood-brain barrier, memicu neuroinflamasi, bahkan meningkatkan risiko kejang pada kondisi tertentu.
Pada sistem reproduksi pria, sejumlah penelitian juga menunjukkan hubungan penggunaan vape harian dengan penurunan jumlah, konsentrasi, dan pergerakan sperma.
“Jadi dampaknya tidak hanya berhenti di paru-paru. Banyak sistem organ lain yang juga dapat terkena efek paparan aerosol vape,” ujar dia.
Lebih Bahaya Vape atau Rokok?
Salah satu alasan banyak orang tetap menggunakan vape adalah karena merasa tubuhnya masih sehat. Tidak batuk, tidak sesak, bahkan tetap mampu beraktivitas seperti biasa.
Menurut Yogo, kondisi itu justru sering menimbulkan rasa aman yang keliru.
“Dampak vape bekerja perlahan. Perubahan pada pembuluh darah, saluran napas, maupun tingkat sel sering kali sudah terjadi sebelum muncul gejala yang bisa dirasakan,” katanya.
Setiap hisapan aerosol tetap memasukkan nikotin, logam berat, serta berbagai senyawa toksik ke dalam tubuh. Paparan itu berlangsung berulang dan bersifat akumulatif sehingga kerusakan dapat berkembang secara diam-diam.
Karena itu, pengguna vape sebaiknya tidak mengabaikan gejala seperti sesak napas mendadak, batuk berkepanjangan, mengi, nyeri dada, jantung berdebar, pusing, hingga rasa haus dan sering buang air kecil yang muncul tanpa sebab jelas. Keluhan tersebut dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan pada paru-paru maupun metabolisme tubuh dan perlu segera diperiksakan ke tenaga kesehatan.
“Vape mungkin menghasilkan paparan toksikan yang lebih rendah dibanding rokok konvensional, tetapi bukan berarti aman. Sampai saat ini bukti ilmiah menunjukkan bahwa vape tetap membawa berbagai risiko kesehatan yang perlu diwaspadai,” pungkasnya. (lam)






