Kekhawatiran terhadap aktivitas sekolah di tengah paparan polusi udara tidak terlepas dari kondisi kualitas udara di Kota Makassar yang dilaporkan memburuk.
Berdasarkan data pemantauan yang disampaikan BMKG Wilayah IV Makassar, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Makassar mencapai 156,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Rabu (14/10/2026) pagi. Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat berdasarkan klasifikasi yang digunakan dalam laporan tersebut.
Kondisi itu menunjukkan peningkatan konsentrasi partikulat dibandingkan pengukuran sebelumnya. Pada dini hari Selasa (13/10/2026), konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 127,7 µg/m³, kemudian meningkat menjadi 158,7 µg/m³ pada pagi hari.
Tingginya konsentrasi PM2.5 menjadi perhatian karena partikulat tersebut berukuran sangat kecil sehingga dapat terhirup hingga ke bagian dalam saluran pernapasan. Paparan polusi partikulat dapat memicu gangguan pernapasan, memperburuk asma, serta meningkatkan risiko masalah kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak.
Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulawesi Selatan, Rizky Yudha, membenarkan bahwa kualitas udara di Makassar sempat masuk kategori sangat tidak sehat berdasarkan pemantauan yang dilakukan.
“Pada jam 9 WITA naik menjadi kategori sangat tidak sehat,” ucapnya, Rabu (14/10/2026).
Peningkatan konsentrasi partikulat tersebut menjadi perhatian karena anak-anak masih harus beraktivitas di lingkungan sekolah, termasuk saat berangkat, pulang, maupun mengikuti kegiatan di luar ruangan.
Karena itu, pemantauan kualitas udara menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan aktivitas yang aman bagi peserta didik. Selain penggunaan masker, sekolah perlu memperhatikan kegiatan luar ruangan apabila kondisi udara memburuk.






