NEWS  

BRIN Siapkan Alat Deteksi Ketergantungan Narkoba, Pengembangan Menyasar Level Genom

Journalist Independent
Kepala BRIN Arif Satria
Kepala BRIN Arif Satria

JAKARTA – Upaya mendeteksi ketergantungan narkoba mulai diarahkan ke teknologi yang lebih terjangkau dan presisi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendapat arahan untuk mengembangkan alat deteksi yang dapat digunakan sebagai bagian dari pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan penguatan riset tersebut menjadi bagian dari perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap upaya menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkoba.

“Presiden meminta kami memperkuat riset dan inovasi untuk menyelamatkan generasi ke depan,” kata Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Selain alat deteksi, BRIN juga diminta memperkuat kajian mengenai rehabilitasi, termasuk pengembangan metode dan penambahan pusat rehabilitasi bagi pengguna narkoba.

Arif mengatakan teknologi deteksi akan diarahkan agar memiliki biaya yang lebih terjangkau sehingga dapat mendukung langkah pencegahan. Pengembangan alat tersebut juga diharapkan membantu mendeteksi ketergantungan secara lebih dini.

Pengembangan teknologi itu tidak berhenti pada pemeriksaan umum. Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Ni Luh Putu Indi Dharmayanti mengatakan riset akan dikembangkan hingga tingkat genom.

“Deteksi ketergantungan akan kami kembangkan sampai level genom,” ujar Indi.

Teknologi berbasis genom dapat digunakan untuk melihat informasi genetik yang berkaitan dengan kondisi seseorang. BRIN juga menyiapkan pengembangan deteksi untuk tahap setelah seseorang menjalani proses rehabilitasi.

Di sisi lain, perhatian pemerintah juga tertuju pada penggunaan vape sebagai salah satu celah baru dalam penyalahgunaan narkoba. Arif menyebut persoalan tersebut menjadi bagian yang perlu diantisipasi bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kementerian Kesehatan.

Menurut Arif, pengujian BRIN menemukan adanya persoalan kesehatan yang berkaitan dengan penggunaan vape. Namun, yang menjadi perhatian dalam pembahasan di Istana adalah kemungkinan pemanfaatan perangkat vape sebagai sarana penyebaran zat terlarang.

Isu tersebut muncul ketika aparat juga tengah mengungkap peredaran zat yang dikemas dalam cartridge vape. Polisi pada akhir September 2026 mengungkap kasus dugaan peredaran etomidate dalam cartridge vape dan menyita ratusan cartridge dalam pengungkapan di Jakarta.

Dengan perkembangan tersebut, riset BRIN diarahkan tidak hanya untuk menemukan alat yang mampu mendeteksi narkoba, tetapi juga membangun metode yang dapat membantu mengenali ketergantungan dan mendukung proses rehabilitasi.

Pengembangan alat yang murah menjadi salah satu bagian penting karena teknologi deteksi diharapkan dapat digunakan lebih luas. Sementara pendekatan hingga level genom membuka ruang bagi riset untuk memahami ketergantungan secara lebih spesifik.

Langkah tersebut menempatkan riset dan teknologi sebagai salah satu bagian dari strategi pencegahan narkoba, berdampingan dengan penguatan rehabilitasi serta pengawasan terhadap pola baru penyalahgunaan zat. (Why)