LONDON – Anthony Gordon mengaku terkejut ketika Thomas Tuchel menariknya keluar pada semifinal Piala Dunia 2026 melawan Argentina. Gordon baru saja mencetak gol untuk membawa Inggris unggul dan merasa sedang berada dalam performa terbaik sebelum Tuchel menggantinya dengan Ezri Konsa.
Pergantian itu terjadi ketika Inggris hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk mencapai final. Tuchel memasukkan Konsa untuk memperkuat pertahanan dan mengubah struktur permainan Inggris menjadi lima bek.
Namun, strategi tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Argentina meningkatkan tekanan dan akhirnya membalikkan keadaan. Inggris pun kehilangan peluang untuk tampil di final Piala Dunia.
Gordon Merasa Berada di Puncak Performa
Gordon mengaku tidak menyangka Tuchel akan menariknya keluar setelah gol tersebut. Pemain Barcelona itu merasa adrenalin pertandingan justru membuat permainannya semakin baik.
“Ya, saya terkejut, sejujurnya. Saya baru saja mencetak gol. Saya tipe pemain yang sangat bagus ketika bermain dengan adrenalin,” kata Gordon, dikutip dari GOAL.
Menurut Gordon, gol tersebut membuat kepercayaan dirinya meningkat drastis. Ia merasa mampu memberikan kontribusi lebih besar untuk Inggris dalam sisa pertandingan.
“Ketika mencetak gol, biasanya saya tidak mengalami banyak pertandingan buruk karena masuk ke mode percaya diri yang luar biasa. Itu membuat saya merasa berada di puncak dunia,” ujarnya.
Gordon merasakan momen tersebut semakin istimewa karena Inggris bermain di panggung semifinal Piala Dunia.
Tuchel Akui Mengubah Taktik Terlalu Cepat
Tuchel kemudian menjelaskan alasan di balik pergantian tersebut. Pelatih asal Jerman itu mengaku tekanan pertandingan dan kondisi fisik pemain memengaruhi keputusannya.
Tuchel mengubah formasi Inggris menjadi 5-4-1 setelah melihat Argentina mulai memberikan tekanan.
“Kami kebobolan sebuah peluang tepat sebelum jeda minum. Saya berpikir kami tidak akan bertahan. Ini adalah akhir. Saya berpikir, ‘Oke, mari ubah menjadi tiga bek, formasi 5-4-1.’ Itu terlalu cepat untuk memiliki pola pikir seperti itu. Kami sangat lelah,” ujar Tuchel.
Keputusan tersebut akhirnya tidak mampu menghentikan tekanan Argentina. Inggris kehilangan kendali permainan dan gagal mempertahankan keunggulan yang mereka miliki.
Gordon Tak Ingin Larut dalam Kekecewaan
Setelah pertandingan, Gordon dan rekan-rekannya melakukan evaluasi di St George’s Park. Gordon menyebut pertemuan tersebut membantu para pemain menghadapi kekecewaan secara terbuka.
“Kami mengadakan pertemuan pada hari pertama. Itu penting karena kami mungkin tidak bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja,” tutur Gordon.
Menurutnya, Inggris merasa sangat dekat dengan kemenangan sebelum pertandingan berubah dalam waktu singkat.
“Itu adalah kekecewaan besar karena kami merasa akan menang, atau merasa berada dalam kondisi yang sangat baik. Jadi penting untuk mengeluarkannya dan kemudian bergerak maju,” katanya.
Gordon juga menggambarkan perubahan emosinya setelah mencetak gol dan kemudian melihat Inggris kehilangan tempat di final.
“Saya tidak pernah merasa lebih baik daripada ketika mencetak gol di pertandingan melawan Argentina dan saya juga tidak pernah merasa lebih buruk 20 menit kemudian,” ucapnya.
Luka Semifinal Jadi Pelajaran
Gordon tidak ingin pengalaman tersebut berhenti sebagai kekecewaan. Ia melihat kegagalan Inggris sebagai pengalaman yang dapat membentuk dirinya dan rekan-rekannya.
“Luka itu ada, tetapi luka tersebut tidak selalu harus menjadi sesuatu yang negatif. Anda bisa menjadi pribadi yang lebih baik karena itu. Anda bisa belajar banyak hal tentang dunia dan tentang diri sendiri,” kata Gordon.
Inggris kini menghadapi agenda berikutnya di UEFA Nations League. The Three Lions akan menghadapi Spanyol sebelum bertemu Republik Ceko.
Gordon dan skuad Inggris membawa pengalaman semifinal tersebut sebagai bahan evaluasi. Mereka juga mendapat kesempatan memperbaiki permainan setelah gagal mempertahankan keunggulan atas Argentina. (*)






