NEWS  

Spesifikasi KRI Sriwijaya-100, Kapal Induk Pertama RI Masuk TNI AL

KRI Sriwijaya-100 (Wikipedia)

JAKARTA – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menyebut kehadiran KRI Sriwijaya-100 sebagai simbol kemajuan sekaligus modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI.

Pernyataan itu disampaikan Agus saat memimpin upacara pemberian nama kapal dan pengibaran Bendera Merah Putih di atas KRI Sriwijaya-100 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).

“Kehadiran KRI Sriwijaya di jajaran TNI Angkatan Laut merupakan wujud nyata modernisasi alutsista TNI,” kata Agus.

KRI Sriwijaya-100 sebelumnya merupakan kapal induk Italia bernama ITS Giuseppe Garibaldi. Kapal tersebut resmi berganti nama dan masuk jajaran TNI Angkatan Laut setelah prosesi pengibaran Bendera Merah Putih pada 24 September 2026.

Dalam sambutannya, Agus mengatakan posisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan berada di jalur pelayaran laut utama membuat pertahanan maritim menjadi bagian penting dalam menjaga kedaulatan negara.

Menurut dia, kehadiran KRI Sriwijaya-100 dapat memperkuat kemampuan TNI dalam menjalankan berbagai tugas di laut. Kapal tersebut memiliki fasilitas komando dan kemampuan operasional yang dapat mendukung sejumlah misi.

“Kehadiran KRI Sriwijaya-100 dengan kemampuan sebagai pusat komando operasi laut yang andal, sekaligus sarana diplomasi pertahanan, dan bantuan kemanusiaan dapat memperkuat peran TNI secara nasional maupun di tingkat regional dan global,” ujar Agus.

Selain menjalankan fungsi pertahanan, KRI Sriwijaya juga disiapkan untuk mendukung operasi militer selain perang, termasuk penanggulangan bencana alam dan distribusi logistik ke wilayah terpencil. Kementerian Pertahanan menyebut kapal tersebut mampu mengangkut belasan helikopter dan memiliki sejumlah fasilitas operasional, termasuk geladak penerbangan, pusat informasi tempur, serta hanggar.

Dalam kesempatan tersebut, Agus juga memberikan selamat kepada Kolonel Laut (P) Mochamad Fuad Hasan yang dipercaya menjadi Komandan KRI Sriwijaya-100.

Agus berharap Fuad bersama sekitar 399 anak buah kapal dapat mengoperasikan kapal tersebut sekaligus menjalankan tugas menjaga wilayah laut dan kedaulatan Indonesia.

“Selamat bertugas. Kibarkan Sang Merah Putih dengan penuh kebanggaan, serta junjung tinggi kehormatan TNI dan bangsa Indonesia,” kata Agus.

KRI Sriwijaya-100 saat ini menjadi kapal induk pertama yang masuk dalam jajaran TNI AL. Kapal tersebut sebelumnya dibangun untuk Angkatan Laut Italia dan telah berusia sekitar empat dekade. Pemerintah Indonesia menerima kapal tersebut melalui skema hibah dari Italia.

Spesifikasi KRI Sriwijaya-100

KRI Sriwijaya-100 memiliki panjang sekitar 180,2 meter. Lebarnya mencapai 23,4 meter pada garis air dan 30,4 meter pada bagian dek penerbangan. Panjang dek penerbangannya sekitar 173,8 meter dengan bobot perpindahan sekitar 13.850 ton.

Kapal yang sebelumnya bernama Giuseppe Garibaldi itu dibangun di galangan Cantieri Navali di Monfalcone, Italia. Pembangunannya dimulai pada 1978 dan kapal diluncurkan pada 4 Juni 1983.

Dalam informasi spesifikasi yang disampaikan Kementerian Pertahanan, kapal tersebut memiliki kemampuan mengoperasikan belasan helikopter dari geladaknya. Fasilitas penerbangannya juga dilengkapi fitur ski-jump yang memungkinkan sejumlah helikopter melakukan lepas landas secara bersamaan.

Setelah resmi menjadi bagian dari TNI AL, KRI Sriwijaya-100 masih akan menjalani sejumlah penyesuaian. KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan seluruh peralatan komunikasi kapal akan diganti karena sistem sebelumnya menggunakan standar NATO. Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima bulan sebelum kapal dapat beroperasi.

Modernisasi dan penyesuaian sistem kapal juga disiapkan melalui kerja sama PT PAL Indonesia dan perusahaan asal Italia, Fincantieri, termasuk pemeriksaan kondisi kapal, integrasi sistem, serta pengujian sebelum digunakan dalam operasi TNI AL. (bas)