Journalist Independent, PANGKEP — Kebakaran yang melahap pegunungan karst di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, bukan hanya mengancam hutan dan satwa liar.
Kobaran api yang merambat di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) juga membayangi kelestarian situs prasejarah yang menyimpan jejak kehidupan manusia purba.
Hingga Rabu, 14 Oktober 2026, kebakaran telah menghanguskan 93,43 hektare lahan. Api menjalar di antara tebing kapur, pohon jati, dan rumpun bambu, sementara medan terjal menyulitkan petugas menjangkau sejumlah titik kebakaran.
Arkeolog Universitas Griffith Australia, Basran Burhan, menyoroti ancaman terhadap situs arkeologi di sekitar lokasi.
Salah satu titik yang mengkhawatirkan ialah Situs Sabila di kawasan Pangkep, yang berada di kaki bukit karst dengan kobaran api di bagian atas tebing.
“Situs Sabila itu posisinya pas di bawahnya, titik kebakaran ada di atasnya, kira-kira beberapa meter di atas site. Tapi api belum sampai masuk ke dalam situs,” kata Basran pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Situs Sabila menyimpan peninggalan arkeologi berupa artefak alat batu dan sisa makanan purba yang ditemukan pada deposit permukaan tanah. Meski bukan situs lukisan cadas, lokasinya yang berdekatan dengan titik kebakaran membuat potensi dampak panas terhadap lingkungan situs perlu mendapat perhatian.
Basran menilai tim belum dapat memastikan tingkat kerusakan karena pemeriksaan mendalam di lapangan belum dilakukan. Namun, ancaman terhadap situs prasejarah tidak hanya muncul ketika api menyentuh langsung ruang gua atau peninggalan arkeologi.
Lukisan Purba Terancam Asap dan Perubahan Suhu
Kebakaran hutan dan lahan dapat mengubah iklim mikro di kawasan karst. Perubahan suhu dan kelembapan, ditambah paparan asap, berpotensi memengaruhi kondisi permukaan batuan serta kelestarian lukisan purba.
Basran mengingatkan bahwa lukisan cadas sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya. Jelaga yang terbawa asap berpotensi menempel pada permukaan batuan dan menutupi pigmen lukisan, sedangkan perubahan kondisi mikroklimat dapat mempercepat kerusakan pada material tertentu.
“Dampak umumnya bisa memicu pengelupasan dinding atau efek jelaga asap yang menutupi dan merusak lukisan,” ujarnya.
Meski belum ada laporan kerusakan langsung pada dinding gua berlukisan akibat kebakaran kali ini, pemeriksaan setelah api padam menjadi langkah penting. Petugas pelestarian perlu memastikan kondisi permukaan batuan, keberadaan jelaga, serta kemungkinan perubahan lingkungan di sekitar situs.
Basran juga menilai kebakaran di kawasan karst Pangkep bukan persoalan baru. Ia mencatat wilayah Minasatene hingga Liang Kasti pernah mengalami kebakaran serupa pada 2014-2015.
Menurutnya, kejadian berulang semestinya mendorong pengelola kawasan meningkatkan mitigasi, termasuk mengawasi aktivitas manusia di sekitar titik rawan kebakaran. Ia menyebut aktivitas warga di lokasi pengambilan air sebagai salah satu kemungkinan sumber kebakaran yang perlu diperhatikan.
Balai Pelestarian Kebudayaan dan pengelola TN Babul perlu memperkuat pengawasan setelah api benar-benar padam. Langkah tersebut penting untuk memastikan peninggalan prasejarah tidak mengalami kerusakan yang baru terlihat setelah kondisi kawasan kembali normal.
Luas Kebakaran Karst Pangkep Meningkat Tajam
Kepala Balai TN Babul, Abdul Rajab, mencatat kebakaran meluas dengan cepat selama tiga hari berturut-turut. Pada Senin, 12 Oktober 2026, api menghanguskan 34,74 hektare lahan. Sehari kemudian, luas tambahan mencapai 13,67 hektare.
Lonjakan kembali terjadi pada Rabu, 14 Oktober, ketika kebakaran melalap 45,02 hektare dalam sehari. Akumulasi luas lahan terbakar pun mencapai 93,43 hektare.
“Total akumulasi luas karhutla sampai hari ini sudah mencapai 93,43 hektare. Vegetasi yang terbakar didominasi oleh tegakan pohon jati dan rumpun bambu, mulai dari lantai hingga ke tajuk karst,” kata Abdul Rajab pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Titik api terkonsentrasi di dua lokasi utama, yakni kawasan Wae Sellue di Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi, serta Batu Napara di Kelurahan Balocci Baru, Kecamatan Balocci, Pangkep. Petugas memusatkan koordinasi penanganan melalui Posko Utama di Kantor SPTN Wilayah I Minasatene.
Pemantauan menggunakan pesawat nirawak atau drone memperlihatkan perkembangan titik asap yang mengkhawatirkan. Pada pukul 10.00 Wita, petugas mendeteksi empat titik asap. Ketika pemantauan berlanjut pada pukul 15.30 Wita, jumlahnya meningkat menjadi tujuh titik di Wae Sellue dan dua titik di Batu Napara.
Tebing Terjal dan Keterbatasan Air Hambat Pemadaman
Sebanyak 37 personel gabungan dikerahkan untuk mengendalikan api yang mulai mendekati kawasan permukiman. Tim berhasil memadamkan dua titik asap di tengah tebing karst menggunakan jet shooter, yakni alat penyemprot air portabel.
Salah satu titik yang berhasil dipadamkan berjarak sekitar 500 meter dari permukiman warga. Kedekatan tersebut meningkatkan urgensi penanganan, terutama ketika angin kencang berpotensi membawa api ke area lain.
Namun, petugas menghadapi medan yang sulit ditembus. Sejumlah titik berada di puncak karst dengan ketinggian yang dilaporkan mencapai ratusan meter di atas permukaan laut. Kemiringan tebing yang ekstrem, bahkan mendekati 90 derajat, membuat personel kesulitan mencapai sumber api.
Keterbatasan air turut memperlambat pemadaman. Sumber air berada terlalu jauh untuk mendukung penggunaan mesin pompa, sehingga petugas harus membawa jet shooter secara manual menuju titik kebakaran.
Angin yang bertiup ke arah barat juga mempercepat perambatan api di antara vegetasi kering. Kondisi tersebut membuat petugas harus mengutamakan titik yang dapat dijangkau sambil memantau perkembangan kebakaran melalui udara.
Satwa Liar Kehilangan Habitat
Dampak kebakaran meluas hingga mengancam keanekaragaman hayati kawasan karst Maros-Pangkep. Kerusakan pohon jati dan rumpun bambu mengurangi ruang hidup satwa liar yang bergantung pada vegetasi tersebut untuk mencari makan, berlindung, dan berpindah tempat.
Abdul Rajab juga melaporkan kabut asap semakin pekat hingga mengganggu jarak pandang udara. Kepulan asap bahkan diperkirakan berada di sekitar jalur lintasan penerbangan pesawat, sehingga kondisi atmosfer di kawasan tersebut perlu terus dipantau.
Kebakaran yang berulang di pegunungan karst Pangkep kini menjadi peringatan mengenai pentingnya perlindungan kawasan konservasi secara menyeluruh.
Pemadaman api perlu berjalan beriringan dengan pemantauan situs prasejarah, pemeriksaan dampak terhadap satwa, dan pencegahan kebakaran berikutnya.
Bagi kawasan yang menyimpan warisan arkeologi bernilai tinggi, keberhasilan penanganan tidak cukup diukur dari luas lahan yang berhasil diselamatkan.
Pemeriksaan setelah kebakaran dan perlindungan jangka panjang terhadap lukisan purba juga menentukan apakah jejak kehidupan manusia masa lampau tetap lestari bagi generasi mendatang. (*)






