Journalist Independent, MAKASSAR – Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Sulawesi Selatan mulai memperlihatkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat di Makassar, Maros, dan Pinrang ketika kualitas udara memburuk selama musim kemarau.
Kenaikan kasus tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena gangguan pernapasan tidak hanya menyerang balita dan kelompok lanjut usia, tetapi juga masyarakat usia produktif.
Aktivitas di luar rumah di tengah paparan asap dan debu berpotensi memperbesar risiko gangguan kesehatan.
Di Makassar, Dinas Kesehatan mencatat peningkatan kasus ISPA secara bertahap sejak Juli hingga September 2026.
Sementara itu, laporan sejumlah puskesmas di Maros dan Pinrang menunjukkan bahwa gangguan pernapasan juga ditemukan di berbagai wilayah, meskipun data yang tersedia memiliki periode pencatatan berbeda.
Kondisi ini mendorong pemerintah daerah memperkuat pemantauan kesehatan, menyiagakan fasilitas pelayanan medis, serta mengimbau masyarakat mengurangi paparan polusi udara.
Kasus ISPA di Makassar
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Nursaidah Sirajuddin, mengungkapkan ISPA masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Peningkatan kasus dalam beberapa bulan terakhir membuat penyakit tersebut semakin mendapat perhatian di tengah memburuknya kondisi udara.
Data triwulan III Dinas Kesehatan Makassar memperlihatkan kelompok usia 15 hingga 59 tahun mengalami kenaikan kasus paling besar secara jumlah.
Pada Juli 2026, tercatat 5.404 kasus ISPA pada kelompok tersebut. Angkanya meningkat menjadi 6.175 kasus pada Agustus dan kembali naik menjadi 6.398 kasus pada September.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok balita. Jumlah kasus yang tercatat sebanyak 3.400 pada Juli bertambah menjadi 4.300 pada Agustus, kemudian mencapai 4.400 kasus pada September.
Sementara itu, kasus ISPA pada kelompok remaja relatif stabil. Jumlahnya tercatat 2.261 kasus pada Agustus dan meningkat tipis menjadi 2.266 kasus pada September.
Nursaidah mengatakan peningkatan kasus telah terlihat sejak pertengahan tahun. Selain dugaan pengaruh asap kiriman dari luar daerah, kondisi lingkungan selama musim kemarau turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Menurut dia, kekeringan berkepanjangan akibat fenomena El Niño juga dapat memperburuk kondisi lingkungan dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
“Pemicu ISPA bukan semata-mata asap, tetapi juga dampak El Niño dan kekeringan yang cukup lama,” ujarnya, Selasa, 13 Oktober 2026.
Dinas Kesehatan Makassar kini meminta 47 puskesmas memperkuat sistem kewaspadaan dini. Setiap fasilitas kesehatan diminta mempercepat respons terhadap pasien dengan gangguan pernapasan sekaligus memperbanyak edukasi mengenai pencegahan paparan polusi.
Puskesmas juga diminta menyiapkan kebutuhan medis, termasuk tabung oksigen, nebulizer, masker, dan obat-obatan, untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien.
Nursaidah menegaskan gangguan pernapasan yang tidak tertangani dengan baik dapat berkembang menjadi komplikasi, termasuk pneumonia, yang berisiko mengancam keselamatan pasien.
Kasua ISPA Maros
Dampak memburuknya kualitas udara juga terlihat di Kabupaten Maros. Sejumlah fasilitas kesehatan melaporkan pasien dengan gangguan pernapasan dan penyakit lain yang memerlukan perhatian di tengah kondisi cuaca yang kurang mendukung.
Di Puskesmas Simbang, sebanyak 54 pasien ISPA tercatat dalam dua pekan terakhir. Pada periode yang sama, fasilitas kesehatan tersebut juga menangani 37 pasien diare.
Kepala UPTD Puskesmas Simbang, Verawati Idris, menyebut pasien ISPA didominasi kelompok usia produktif, yakni 19 hingga 59 tahun. Adapun kasus diare ditemukan pada kelompok usia yang lebih beragam, mulai dari balita hingga orang dewasa.
Selain cuaca, kondisi sanitasi, kualitas air bersih, debu, dan paparan asap menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.
Di Puskesmas Mandai, catatan sepanjang September 2026 menunjukkan terdapat 155 kasus ISPA, 61 kasus diare, dan 157 kasus demam.
Kepala Dinas Kesehatan Maros, Muhammad Yunus, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan risiko kesehatan ketika kualitas udara memburuk.
“Dampak yang perlu diwaspadai di antaranya ISPA, asma, hingga pneumonia,” ujarnya.
Bupati Maros, Chaidir Syam, juga mengimbau masyarakat kembali disiplin menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Pemerintah kabupaten berencana menerbitkan surat edaran resmi untuk memperkuat imbauan tersebut.
Dinas Kesehatan Maros memastikan fasilitas kesehatan tingkat pertama disiagakan untuk menangani warga yang mengalami gangguan kesehatan. Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila gejala yang dialami tidak kunjung membaik.
Kasus ISPA Pinrang
Situasi serupa terjadi di Kabupaten Pinrang. Data Dinas Kesehatan setempat mencatat sebanyak 9.834 kasus ISPA sepanjang 2025. Penyakit tersebut menempati urutan ketiga dalam daftar sepuluh penyakit terbanyak di kabupaten itu.
Sementara itu, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, tercatat 2.636 kasus ISPA. Angka tersebut belum mencakup keseluruhan tahun sehingga belum dapat digunakan untuk menyimpulkan perbandingan tahunan secara utuh.
Kepala Dinas Kesehatan Pinrang, Ramli Yunus, mengatakan laporan dari puskesmas menunjukkan adanya peningkatan kasus di berbagai wilayah kecamatan.
“Hampir semua puskesmas mengalami peningkatan penyakit ISPA,” katanya, Rabu, 14 Oktober 2026.
Ramli menjelaskan, kenaikan tersebut tidak hanya berlangsung pada Oktober, tetapi telah terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, ia tidak menyebutkan angka pasti mengenai besaran peningkatan berdasarkan pemantauan terbaru.
Kondisi cuaca dan kualitas udara yang kurang sehat, termasuk kemungkinan paparan asap karhutla selama musim kemarau, menjadi perhatian dalam pemantauan kesehatan masyarakat.
Antisipasi Lonjakan Kasus
Di Makassar, Dinas Kesehatan meminta puskesmas memperbarui data kasus ISPA setiap hari hingga Desember 2026.
Data tersebut akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah lanjutan bersama instansi terkait, termasuk dalam menghadapi kemungkinan peningkatan pasien.
Nursaidah menyebut lonjakan hingga 50 persen dibandingkan kondisi normal dapat menjadi peringatan bagi pemerintah untuk mempertimbangkan kebijakan tambahan.
Salah satu opsi yang dapat dikaji adalah pembelajaran daring apabila perkembangan kasus dan kondisi lingkungan menunjukkan kebutuhan mendesak.
Namun, kebijakan tersebut tidak otomatis diberlakukan hanya berdasarkan satu indikator.
Pemerintah perlu mengevaluasi data kesehatan dan perkembangan kualitas udara sebelum menentukan langkah yang sesuai.
Masyarakat juga diminta membatasi kegiatan di luar ruangan ketika udara memburuk. Penggunaan masker bedah dianjurkan sebagai bagian dari upaya mengurangi paparan partikel, disertai kebiasaan menjaga kebersihan dan memperhatikan gejala gangguan pernapasan.
Batuk, demam, dan pilek merupakan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai.
Jika keluhan semakin berat atau tidak kunjung membaik, pemeriksaan medis diperlukan agar pasien memperoleh penanganan tepat.
Nursaidah berharap kondisi di Sulawesi Selatan tidak berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih luas.
Karena itu, pemantauan harian, kesiapan fasilitas medis, dan edukasi masyarakat dinilai penting untuk menekan risiko peningkatan kasus.
Di tengah kabut asap dan kualitas udara yang tidak menentu, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi kelompok rentan sekaligus mencegah gangguan pernapasan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. (*)






