NEWS  

Sejumlah Daerah di Sulsel Berpotensi Hujan, Kualitas Udara Masih Tak Sehat akibat Karhutla

Journalist Independent
Ilustrasi hujan ringan.

Journalist Independent.com, MAKASSAR – Potensi hujan ringan diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Rabu (14/10/2026). Namun, peluang turunnya hujan tersebut belum menghilangkan kekhawatiran terhadap kualitas udara yang masih berada dalam kategori tidak sehat akibat tingginya konsentrasi partikel polutan PM2.5.

Berdasarkan prakiraan cuaca Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, hujan ringan berpotensi mengguyur sejumlah wilayah mulai siang hingga dini hari. Di sisi lain, konsentrasi PM2.5 di Sulsel tercatat berada pada rentang 55,5–150,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Kondisi ini membuat masyarakat perlu tetap waspada terhadap dampak pencemaran udara, meskipun beberapa wilayah berpeluang mengalami hujan. Terlebih, penyebaran partikulat di Sulsel sebelumnya dilaporkan hampir merata di sejumlah kabupaten dan kota, dengan pengecualian wilayah bagian utara.

Pada Rabu siang hingga sore, hujan ringan diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Enrekang, Luwu Utara, Pinrang, dan Toraja Utara. Memasuki malam hari, potensi hujan bergeser ke sebagian wilayah Luwu Timur dan Luwu Utara.

Sementara pada dini hari, hujan ringan masih berpeluang turun di sebagian wilayah Luwu Timur. Adapun kondisi cuaca pada pagi hari secara umum diprakirakan cerah berawan dan berlanjut hingga siang dan sore hari.

Meski demikian, potensi hujan tersebut tidak serta-merta menjamin kualitas udara akan langsung membaik. Kondisi udara juga dipengaruhi oleh sumber pencemar, pergerakan angin, serta seberapa banyak partikulat yang masih berada di atmosfer.

Konsentrasi PM2.5 di Makassar Terus Meningkat

Kondisi kualitas udara yang tidak sehat sebelumnya juga terpantau di Kota Makassar. Data BMKG Wilayah IV Makassar yang dilaporkan pada Selasa (13/10/2026) menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Makassar mencapai 52,4 mikrogram per meter kubik pada dini hari.

Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 85,6 mikrogram per meter kubik pada pagi hari, sebelum kembali naik hingga 113,5 mikrogram per meter kubik pada sore hari.

Peningkatan tersebut menunjukkan konsentrasi partikulat halus di udara Makassar mengalami kenaikan dalam rentang waktu pengamatan tersebut. Nilai 113,5 mikrogram per meter kubik termasuk kategori tidak sehat dan mendekati ambang kategori sangat tidak sehat dalam indeks kualitas udara yang menggunakan konsentrasi PM2.5 sebagai indikator.

Partikel PM2.5 merupakan polutan berukuran sangat kecil, yakni berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup, sehingga paparannya berisiko mengganggu kesehatan.

Dampaknya perlu menjadi perhatian, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan dan gangguan jantung. Paparan polusi dalam konsentrasi tinggi juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan, khususnya ketika masyarakat beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

Partikulat Tersebar di Sejumlah Wilayah Sulsel