NEWS  

Sejumlah Daerah di Sulsel Berpotensi Hujan, Kualitas Udara Masih Tak Sehat akibat Karhutla

Journalist Independent
Ilustrasi hujan ringan.

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulawesi Selatan, Rizky Yudha, sebelumnya menjelaskan bahwa penyebaran partikulat di Sulsel hampir merata di sejumlah kabupaten dan kota. Wilayah yang relatif dikecualikan dalam pemantauan tersebut adalah Sulsel bagian utara, termasuk kawasan Luwu hingga Toraja.

“Secara penyebaran partikulatnya hampir merata se-Sulsel, kecuali Sulsel bagian utara. Tapi untuk melihat nilai masing-masing kabupaten perlu dicek juga datanya di Dinkes atau DLH,” kata Rizky kepada wartawan, Minggu (11/10/2026).

Ia menjelaskan, pengukuran kualitas udara yang dipantau saat itu menunjukkan konsentrasi PM2.5 masih berada dalam kategori tidak sehat. Salah satu lokasi pemantauan, Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan di Maros, mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 85,3 mikrogram per meter kubik.

Menurut Rizky, perkembangan kualitas udara sangat bergantung pada sumber polutan dan kondisi angin. Apabila sumber pencemaran berkurang atau arah angin berubah sehingga polutan tidak lagi terbawa ke wilayah tersebut, kualitas udara berpeluang membaik.

“Partikulatnya, sampai hari ini PM2.5 dan untuk hari ini, masih menunjukkan kategori tidak sehat. Potensinya seperti itu, tapi hal ini juga bergantung dari sumber polutannya dan arah anginnya. Jika sumbernya berkurang atau anginnya berubah, kualitas udaranya bisa lebih membaik,” jelasnya.

Asap Karhutla Diduga Ikut Memengaruhi Kualitas Udara

Berdasarkan penjelasan BMKG yang disampaikan sebelumnya, penurunan kualitas udara di Sulsel dapat dipengaruhi oleh asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari luar wilayah.

Asap karhutla di Kalimantan disebut dapat terbawa pergerakan angin hingga mencapai Sulawesi Selatan. Selain itu, pola angin dari arah timur memungkinkan asap dari kawasan Papua dan Maluku ikut terbawa menuju wilayah Sulsel.

Di luar sumber pencemaran dari luar daerah, kebakaran lahan yang terjadi secara lokal juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi partikulat di udara.

Pergerakan asap lintas wilayah ini membuat kondisi kualitas udara tidak hanya ditentukan oleh cuaca di satu kabupaten atau kota. Arah dan kecepatan angin turut memengaruhi persebaran polutan, termasuk kemungkinan partikulat terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Karena itu, potensi hujan ringan yang diprakirakan terjadi di beberapa daerah Sulsel perlu dilihat secara terpisah dari perkembangan kualitas udara. Hujan dapat membantu mengurangi sebagian partikel di atmosfer, tetapi dampaknya bergantung pada intensitas dan durasi hujan serta kondisi pencemaran yang berlangsung.

Waspada Angin Kencang dan Udara Panas

Selain hujan dan kualitas udara yang tidak sehat, BBMKG Wilayah IV Makassar juga mengeluarkan peringatan dini terhadap potensi angin kencang di Bantaeng, Bulukumba, Gowa, Jeneponto, dan Takalar.

Potensi udara panas turut menjadi perhatian di sejumlah daerah, yakni Barru, Bone, Bulukumba, Enrekang, Gowa, Kepulauan Selayar, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Makassar, Maros, Palopo, Parepare, Soppeng, Takalar, dan Wajo.

Sementara itu, status siaga potensi udara panas berlaku di Pinrang dan Sidrap.

Suhu udara di Sulsel diprakirakan berkisar 18–36 derajat Celsius, dengan kelembapan udara antara 40 hingga 95 persen. Angin bertiup dari arah utara hingga timur dengan kecepatan 10–40 kilometer per jam.

Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dan kualitas udara dari instansi terkait. Ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat, warga sebaiknya mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel halus.

Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi kelompok rentan, khususnya anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan dan jantung. Jika mengalami keluhan seperti sesak napas atau iritasi yang memburuk, warga disarankan mencari pertolongan medis.

Di tengah potensi hujan yang menyertai cuaca Sulsel hari ini, pemantauan kualitas udara tetap penting dilakukan. Perubahan cuaca dapat memengaruhi persebaran polutan, tetapi perbaikan kualitas udara perlu dipastikan melalui data pemantauan terbaru, bukan hanya berdasarkan ada atau tidaknya hujan. (wah)