Journalist Independent, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan dukungan Indonesia terhadap upaya Mesir dalam mengamankan hak atas sumber daya air Sungai Nil. Prabowo menekankan bahwa setiap negara harus menghormati hukum internasional dan tidak mengambil langkah yang dapat mengurangi hak bangsa lain untuk memperoleh kepastian akses terhadap sumber air.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam konferensi pers bersama Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (11/10/2026). Isu Sungai Nil menjadi salah satu pembahasan penting dalam pertemuan kedua kepala negara, di tengah penegasan Mesir mengenai pentingnya menjaga keamanan air bagi masyarakatnya.
“Saudara-saudara sekalian, saya juga ingin tegaskan di sini khusus tentang hak air, khusus tentang Sungai Nil. Kami sangat prihatin apabila ada pemikiran-pemikiran untuk melanggar hukum internasional untuk mengurangi hak bangsa untuk mendapat kepastian sumber air,” kata Prabowo.
Kepala Negara menyatakan Indonesia berharap seluruh pihak yang berkepentingan dapat mengedepankan kepentingan bersama dan menjaga stabilitas kawasan. Menurut Prabowo, kepastian akses terhadap sumber air merupakan persoalan penting yang perlu disikapi dengan menghormati ketentuan hukum internasional.
“Kami dalam hal ini berharap semua pihak untuk meningkatkan kepentingan bersama untuk kawasan tersebut dan kami akan mendukung upaya-upaya Mesir untuk mengamankan hak-hak airnya,” ujar Prabowo.
Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa Sungai Nil memiliki arti sangat penting bagi kehidupan masyarakat negaranya. Sungai tersebut menjadi sumber air utama yang menopang kebutuhan penduduk dan berbagai aktivitas di Mesir.
El-Sisi menekankan bahwa Mesir memiliki hak atas air Sungai Nil. Ia juga menyatakan penolakan terhadap langkah-langkah yang dinilai dapat membahayakan keamanan air negaranya maupun mengurangi hak-hak yang selama ini dipertahankan Mesir.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keamanan air menjadi perhatian strategis bagi pemerintah Mesir. Dalam pandangan Kairo, keberlanjutan akses terhadap Sungai Nil berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat dan kepentingan nasional.
Dalam pernyataan bersama, El-Sisi menyampaikan, “Saya juga ingin (menegaskan) terkait dengan Sungai Nil sebagai urat nadi kehidupan masyarakat Mesir dan saya menegaskan sekuat tenaga bahwa Mesir memiliki haknya yang terkait dengan air tersebut.”
Ia juga menegaskan penolakan terhadap hal-hal yang berpotensi membahayakan keamanan air Mesir. Sikap tersebut sejalan dengan pesan yang disampaikan Prabowo mengenai pentingnya menghormati hukum internasional dan mengutamakan kepentingan bersama dalam pengelolaan sumber daya air.
Meski demikian, pernyataan kedua pemimpin tersebut tidak merinci mekanisme penyelesaian persoalan hak air Sungai Nil ataupun langkah teknis yang akan ditempuh Indonesia untuk mendukung Mesir. Dukungan yang disampaikan Prabowo berfokus pada prinsip penghormatan terhadap hukum internasional dan upaya Mesir menjaga hak atas airnya.
Pertemuan Prabowo dan el-Sisi berlangsung dalam rangka kunjungan kenegaraan Presiden Mesir ke Indonesia pada 10–11 Oktober 2026. Selain membahas persoalan regional dan internasional, kedua negara berupaya memperluas kemitraan strategis yang telah terjalin.
Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pembicaraan kedua pemimpin mencakup penguatan kerja sama di sejumlah sektor, mulai dari politik, ekonomi, perdagangan, investasi, kelautan dan perikanan, hingga pertahanan.
Dalam kunjungan tersebut, kedua negara juga menyaksikan pertukaran sejumlah dokumen kerja sama. Kesepakatan yang diumumkan meliputi rencana aksi kemitraan strategis, kerja sama statistik, kerja sama kelautan dan perikanan, serta pembebasan visa bagi pemegang paspor diplomatik, dinas, dan paspor khusus.
Kesepakatan itu menjadi bagian dari upaya memperluas hubungan bilateral agar tidak hanya bertumpu pada komunikasi politik, tetapi juga menghasilkan kerja sama konkret di berbagai bidang.
Di tengah dinamika kawasan yang menjadi perhatian kedua negara, pertemuan tersebut juga membuka ruang konsultasi mengenai isu-isu internasional. Pemerintah Indonesia dan Mesir menekankan pentingnya koordinasi serta dialog dalam menghadapi persoalan yang berdampak terhadap stabilitas regional.
Dukungan Indonesia terhadap upaya Mesir mengamankan hak air Sungai Nil disampaikan dalam kerangka hubungan bilateral dan penghormatan terhadap hukum internasional. Prabowo menekankan perlunya semua pihak mempertimbangkan kepentingan bersama agar persoalan sumber daya air tidak mengurangi kepastian akses yang dibutuhkan suatu bangsa.
Bagi Mesir, isu tersebut menyangkut keberlanjutan sumber air yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, pernyataan el-Sisi menempatkan keamanan air sebagai kepentingan nasional yang perlu dilindungi.
Sementara bagi Indonesia, pernyataan Prabowo menegaskan posisi untuk mendukung upaya Mesir sekaligus mendorong penghormatan terhadap hukum internasional. Namun, dukungan diplomatik tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana persoalan pengelolaan Sungai Nil akan diselesaikan oleh seluruh pihak yang berkepentingan.
Pertemuan di Istana Merdeka pun memperlihatkan bahwa pembicaraan Indonesia dan Mesir tidak terbatas pada kerja sama bilateral, tetapi juga menyentuh isu strategis yang berkaitan dengan kepentingan kawasan.
Dengan komitmen memperkuat kemitraan dan melanjutkan konsultasi, kedua negara berharap hubungan yang telah terjalin dapat semakin berkembang. Adapun persoalan hak air Sungai Nil tetap membutuhkan perhatian dan upaya diplomatik dari pihak-pihak terkait, dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat serta prinsip hukum internasional. (*)






