SULSEL  

Kabut Asap di Parepare, Lebih dari 2.000 Warga Tercatat Menderita ISPA

Journalist Independent
Kabut asap di Parepare, Sulawesi Selatan. Foto: (dok. istimewa)
Kabut asap di Parepare, Sulawesi Selatan. Foto: (dok. istimewa)

JI, PAREPARE – Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Kota Parepare, Sulawesi Selatan, hingga menyebabkan kualitas udara berada dalam kondisi yang perlu diwaspadai. Di tengah kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Parepare mencatat adanya kecenderungan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Pantauan di lapangan menunjukkan kabut asap terlihat cukup pekat di sejumlah kawasan, mulai dari wilayah permukiman hingga area perbukitan dan pesisir Kota Parepare.

Kondisi tersebut membuat masyarakat khawatir terhadap dampak kabut asap terhadap kesehatan, terutama gangguan pada saluran pernapasan.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Sulawesi Selatan, Rizky Yudha Pahlawan, mengatakan hasil pemantauan konsentrasi particulate matter (PM2.5) di Stasiun Klimatologi Sulsel, Maros, tercatat mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.

“Pantauan visual hari ini di wilayah Sulsel, khususnya Kota Makassar, Kota Parepare, dan sekitarnya, udara dalam keadaan berkabut. Berdasarkan pengamatan konsentrasi PM2,5 tercatat sebesar 85,3 mikrogram per meter kubik, yang masuk dalam kategori tidak sehat,” ungkapnya, Jumat (9/10/2026).

BMKG meminta masyarakat mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, terutama ketika kondisi kabut semakin tebal. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan menggunakan masker.

Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

“Kami mengimbau masyarakat di wilayah Sulsel untuk mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan memakai masker, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan wanita hamil,” tambahnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Parepare, M Idris, membenarkan adanya kecenderungan peningkatan kasus ISPA di wilayah tersebut.

Namun, Idris mengatakan pihaknya masih perlu melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab peningkatan kasus tersebut. Menurutnya, belum dapat dipastikan apakah kondisi itu berkaitan langsung dengan paparan kabut asap atau dipengaruhi faktor iklim.

“Terkait dengan kabut asap pasti ada efek kita khawatirkan terutama sekali dengan penyakit ISPA. Jadi kekhawatiran kita itu, kabut asap ini jadi salah satu penyebab ISPA sehingga kita berharap memang masyarakat berhati-hati untuk beraktivitas jika intensitasnya makin besar,” katanya.

Idris menyebut kecenderungan peningkatan kasus ISPA berada di kisaran 10 hingga 15 persen. Berdasarkan data akumulasi dari bulan sebelumnya hingga bulan berjalan, jumlah penderita ISPA di Parepare telah mencapai lebih dari 2.000 orang.

“Iya kecenderungannya memang naik, kecenderungan kasus ISPA naik tetapi kita masih perlu melihat apakah betul karena pengaruh asap ini atau memang atau memang pengaruh iklim. Sekitar 10% sampai 15%, jadi sekitar 2000 lebih sekarang ini menderita ISPA. Data bulan terakhir, jadi itu data akumulasi dari bulan lalu sampai dengan bulan sekarang,” ujarnya.

Masyarakat Parepare diimbau tetap waspada terhadap perubahan kualitas udara. Warga yang mengalami keluhan pada saluran pernapasan juga diharapkan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan kondisi udara guna mengantisipasi dampak kesehatan yang lebih luas.