JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memastikan dividen yang diterimanya tidak akan disetorkan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana tersebut akan diputar kembali untuk investasi melalui perusahaan pengelola aset dan investasi Danantara.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan dividen yang diterima lembaga tersebut akan dikelola melalui Danantara Asset Management (DAM) dan Danantara Investment Management (DIM).
“Kan memang Danantara itu dividennya tuh diinvestasikan. Makanya ada DAM, ada DIM. Dividen itu diinvestasikan oleh Pak Pandu (Sjahrir, CIO Danantara),” ujar Dony di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Dony menegaskan, Danantara tidak memiliki rencana menyetorkan dividen yang diterimanya ke kas negara. Menurut dia, APBN dan Danantara memiliki peran berbeda, tetapi sama-sama diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Seharusnya memang enggak ada rencana itu ya. Jadi kan antara APBN dan Danantara, dua-duanya menjadi engine of growth,” katanya.
Ia menjelaskan, APBN berperan membiayai kebutuhan dasar masyarakat, termasuk pembangunan infrastruktur dasar dan layanan kesehatan. Sementara itu, Danantara berfokus pada pengelolaan investasi yang diharapkan memberikan dampak ekonomi lebih luas.
“Yang dibiayai oleh APBN yang basic infrastructure, kesehatan, dan lain sebagainya. Pada dasarnya dua-duanya negara. Kan jadi Danantara itu 100% punya negara, bukan punya orang lain, sama aja gitu,” ungkapnya.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan APBN 2026 maupun rancangan APBN 2027 tidak memasukkan dividen Danantara sebagai sumber penerimaan yang diandalkan pemerintah.
“Saat ini saya bekerja dengan APBN 2026 yang tidak ada dividen Danantara. Saat ini saya juga bekerja mempersiapkan APBN 2027 yang tidak ada dividen Danantara,” kata Suahasil.
Menurut Suahasil, kontribusi Danantara terhadap negara tidak semestinya hanya diukur dari besarnya dividen yang disetorkan ke kas negara. Dampak investasi terhadap aktivitas ekonomi dan dunia usaha juga menjadi bagian penting dari kontribusi lembaga tersebut.
“Dividen yang paling penting dari Danantara bukan hanya soal uang,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah dampak yang diharapkan dari investasi Danantara, antara lain penciptaan lapangan kerja, peningkatan produksi barang dan jasa, serta mendorong keterhubungan antara investasi Danantara dan investasi swasta.
Dengan pembagian peran tersebut, APBN diharapkan tetap menjadi instrumen pembiayaan kebutuhan publik dan pembangunan dasar, sedangkan Danantara menggerakkan investasi untuk memperkuat aktivitas usaha dan pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah pun mengarahkan keduanya agar saling melengkapi dalam mendukung pembangunan nasional, meskipun dividen Danantara tidak direncanakan menjadi setoran langsung ke APBN. (*)






