SULSEL  

Drama Perkelahian Berujung Bentrokan, IAIN Parepare Perketat Jam Malam

Journalist Independent
Ilustrasi bentrokan mahasiswa IAIN Parepare saat penutupan pengaderan yang berujung pembatasan aktivitas malam kampus.
Dua kelompok mahasiswa IAIN Parepare terlibat bentrokan setelah perselisihan saat memerankan adegan perkelahian dalam drama penutupan pengaderan.

PAREPARE – Adegan perkelahian dalam drama penutupan pengaderan mahasiswa IAIN Parepare berujung bentrokan antara dua kelompok mahasiswa. Perselisihan yang awalnya berlangsung dalam suasana bercanda berubah menjadi pertikaian di luar area kegiatan hingga mendorong pihak kampus memperketat aktivitas mahasiswa pada malam hari.

Bentrokan melibatkan kelompok Mispala dan Ikatan Pelajar Mahasiswa Letta (IPMAL). Kedua kelompok terlibat keributan di depan Gedung Serbaguna IAIN Parepare, Jalan Amal Bakti, Kelurahan Bukit Harapan, Kecamatan Soreang, Selasa, 6 Oktober 2026, sekitar pukul 19.30 Wita.

Rektor IAIN Parepare Darmawati menjelaskan, persoalan bermula ketika mahasiswa memerankan adegan perkelahian dalam drama penutupan pengaderan. Para mahasiswa awalnya menjalankan adegan tersebut sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Namun, suasana bercanda kemudian berlanjut hingga keluar dari konteks pertunjukan.

Darmawati mengatakan mahasiswa dari kedua kelompok awalnya menganggap aksi tersebut sebagai bagian dari permainan. Situasi berubah ketika masing-masing pihak mulai mengikuti adegan secara lebih serius hingga memicu perselisihan.

“Nah dari situlah awal pemicu baku main-main dengan teman-teman antara Mispala dengan Letta. Tapi pada akhirnya dia kira main-main, ternyata betul mengikuti dramanya,” ujar Darmawati, Rabu, 7 Oktober 2026.

Pihak kampus kemudian mengambil langkah untuk meredam persoalan. Rektorat memanggil pengurus dan pembina dari kedua organisasi mahasiswa yang terlibat. Kampus mencoba mempertemukan kedua pihak untuk mencari penyelesaian sebelum persoalan berkembang lebih jauh.

“Langkah awal itu kita memang memanggil antara pembina, pengurusnya duluan antara ini Letta sama Mispala,” kata Darmawati.

Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya menghentikan ketegangan. Menurut Darmawati, keterlibatan orang dari luar kampus ikut memperkeruh keadaan. Kehadiran pihak eksternal dalam kegiatan mahasiswa tersebut, kata dia, menjadi salah satu faktor yang memicu situasi kembali memanas.

“Sesungguhnya itu bukan pihak mahasiswa murni kami untuk kegiatan itu, karena banyak sekali yang orang lain. Itu salah satu pemicu ya mungkin sehingga terjadi kejadian tadi malam,” ungkapnya.

Kampus kemudian kembali mengambil langkah untuk mempertemukan kedua kelompok. Upaya tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan damai. Darmawati menyebut mahasiswa dari Mispala maupun IPMAL sepakat menyelesaikan persoalan dan saling memaafkan.

“Kita saksikan tadi semua anak-anak kami, baik dari Mispala maupun dari pihak IPMAL itu Letta, semuanya berdamai dengan legowo semua, baku berpelukan,” tutur Darmawati.

Meski kedua kelompok telah berdamai, pihak rektorat tidak ingin insiden serupa kembali terjadi. Kampus langsung mengevaluasi pelaksanaan kegiatan mahasiswa, khususnya aktivitas yang berlangsung pada malam hari.

Darmawati mengatakan pihak kampus akan meninjau kembali seluruh kegiatan mahasiswa. Rektorat juga menyiapkan langkah pencegahan dengan membatasi waktu pelaksanaan kegiatan pada malam hari.

“Ini nanti ada, harus ada peninjauan ulang seluruh kegiatan kampus. Mungkin dilakukan nanti sesuatu hal yang preventif, pembatasan jam kegiatan malam,” kata Darmawati.

Kampus berencana menerbitkan surat edaran sebagai dasar penerapan aturan baru tersebut. Surat itu nantinya mengatur pembatasan kegiatan mahasiswa pada malam hari agar pihak kampus memiliki mekanisme pengawasan yang lebih jelas.

“Memang nanti itu ada surat edaran berupa nanti kita keluarkan bahwa untuk itu tadi, pembatasan kegiatan pada jam malam, insya Allah ke depannya,” ujarnya.

Selama ini, kata Darmawati, kampus memang memiliki ketentuan mengenai batas waktu kegiatan mahasiswa. Namun, aturan tersebut belum secara khusus mengatur pembatasan aktivitas malam secara lebih ketat. Ketentuan tertulis yang berlaku membolehkan kegiatan mahasiswa berlangsung hingga pukul 22.00 Wita.

“Jadi bukan dari baru hari ini. Itu permasalahannya sudah karena memang belum pernah ada sebenarnya untuk pembatasan di jam kegiatan mahasiswa pada malam. Yang tertulis itu di kegiatan mahasiswa itu sampai jam 10 malam,” jelasnya.

Rencana pembatasan tersebut menjadi bagian dari evaluasi kampus setelah bentrokan terjadi. Rektorat menilai kegiatan mahasiswa membutuhkan pengawasan yang lebih intensif, terutama ketika kegiatan berlangsung hingga malam dan melibatkan banyak peserta dari luar organisasi maupun pihak eksternal.

Selain membatasi waktu kegiatan, kampus juga akan memperkuat pengamanan di lingkungan IAIN Parepare. Pengawasan tidak hanya mengandalkan petugas keamanan internal, tetapi juga melibatkan unsur lain yang berada di lingkungan kampus.

Darmawati menyebut pihak security akan meningkatkan pengawasan. Kampus juga akan melibatkan Resimen Mahasiswa (Menwa) serta berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mendukung pengamanan kegiatan.

“Dan mungkin juga ada pendampingan dari pihak security secara intensif, dari pihak Menwa, dan begitu pula dari pihak eksternal dari pihak kepolisian,” tutur Darmawati.

Kampus berharap langkah tersebut dapat mencegah konflik serupa dalam kegiatan mahasiswa berikutnya. Rektorat juga mendorong organisasi mahasiswa agar mengelola setiap kegiatan secara lebih tertib dan memastikan seluruh peserta memahami batas antara adegan dalam pertunjukan dengan tindakan di luar kegiatan.

Insiden ini menunjukkan bahwa kegiatan yang bermula dari sebuah adegan dalam pertunjukan dapat berkembang menjadi persoalan ketika peserta tidak lagi membedakan konteks permainan dengan tindakan nyata. Karena itu, kampus memilih memperbaiki sistem pengawasan dan aturan kegiatan sebagai langkah pencegahan.

Darmawati memastikan persoalan antara Mispala dan IPMAL telah menemukan jalan damai. Kedua kelompok mahasiswa telah bertemu dan saling memaafkan. Pihak kampus kini fokus mengevaluasi kegiatan serta memperkuat pengawasan agar suasana akademik di IAIN Parepare tetap kondusif.

Dengan pembatasan aktivitas malam dan rencana penerbitan surat edaran baru, IAIN Parepare akan menata kembali pelaksanaan kegiatan mahasiswa. Kampus juga akan meningkatkan pengawasan untuk memastikan kegiatan organisasi berjalan sesuai aturan dan tidak kembali memicu konflik. (*)