NEWS  

Biaya Penyakit Jantung Tembus Rp100 Triliun dalam 10 Tahun, Ini Data BPJS

Journalist Independent
Ilustrasi penyakit jantung dan pembiayaan BPJS Kesehatan.
Ilustrasi penyakit jantung dan pembiayaan layanan kesehatan BPJS Kesehatan.

JAKARTA – Penyakit jantung menjadi penyakit kronis dengan biaya pelayanan kesehatan terbesar yang ditanggung BPJS Kesehatan. Sepanjang 2015 hingga 2025, BPJS Kesehatan mencatat 172,3 juta kasus penyakit jantung dengan total biaya lebih dari Rp100 triliun.

Kepala Humas BPJS Kesehatan Rizzky Anugerah mengatakan jumlah kasus dan biaya pelayanan penyakit jantung terus meningkat dalam satu dekade terakhir.

Pada 2015, BPJS Kesehatan menanggung 4,6 juta kasus penyakit jantung dengan biaya Rp4,4 triliun. Angka tersebut meningkat hingga 29,8 juta kasus pada 2025 dengan biaya mencapai Rp17,4 triliun.

“Seiring dengan bertumbuhnya jumlah peserta, pemanfaatan Program JKN untuk membiayai penyakit jantung juga ikut bertambah,” kata Rizzky dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9/2026).

Penyakit Jantung Kalahkan Biaya Gagal Ginjal dan Kanker

Data BPJS Kesehatan menunjukkan penyakit jantung menghabiskan biaya lebih besar dibandingkan sejumlah penyakit kronis lainnya.

Pada periode 2015-2025, BPJS Kesehatan mengeluarkan Rp83,8 triliun untuk membiayai 81,2 juta kasus gagal ginjal. Sementara itu, biaya pelayanan kanker mencapai Rp66 triliun untuk sekitar 45 juta kasus.

Rizzky mengatakan penyakit jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, dan penyakit katastropik lainnya memberikan beban besar terhadap pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Pada 2025, tercatat BPJS Kesehatan mengeluarkan biaya Rp50,3 triliun untuk membayar biaya 59,9 juta kasus penyakit katastropik, seperti jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, dan lain-lain,” ujarnya.

Penyakit Katastropik Habiskan 26,42 Persen Biaya

Sepanjang 2025, penyakit katastropik menyerap 26,42 persen dari total biaya pelayanan kesehatan yang dibayarkan BPJS Kesehatan.

Menurut Rizzky, sebagian penyakit kronis dapat ditekan melalui perubahan pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

“Padahal penyakit kronis rata-rata dapat dicegah melalui perubahan pola hidup sehat dan deteksi dini kesehatan secara rutin,” jelasnya.

BPJS Kesehatan kemudian mendorong masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pencegahan penyakit kronis. Imbauan itu disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Jantung Sedunia.

BPJS Dorong Prolanis Muda

BPJS Kesehatan juga mengembangkan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Muda. Program tersebut menyasar masyarakat berusia di bawah 45 tahun untuk mendorong pencegahan penyakit kronis sejak usia produktif.

Melalui program itu, BPJS Kesehatan melibatkan komunitas masyarakat, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, serta pemangku kepentingan Program JKN dalam kegiatan promotif dan preventif.

Rizzky mengajak masyarakat membangun kebiasaan hidup sehat dan rutin beraktivitas fisik.

“Mengadopsi pola hidup sehat dan aktif berolahraga adalah investasi terbaik untuk masa depan kesehatan kita lima atau sepuluh tahun mendatang,” katanya.

Selain menerapkan pola hidup sehat, Rizzky mengingatkan peserta JKN untuk memanfaatkan layanan Skrining Riwayat Kesehatan yang tersedia melalui BPJS Kesehatan. Layanan tersebut dapat membantu peserta mengetahui risiko penyakit kronis sejak dini. (*)