Rupiah Melemah ke Rp17.981, Kurs APBN 2027 Dipatok Rp17.500 per Dolar AS

Journalist Independent
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Rupiah ditutup di level Rp17.981 per dolar AS, turun 3 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya Rp17.978 per dolar AS.

Pelemahan tersebut terjadi bersamaan dengan pengesahan APBN 2027 oleh DPR RI dalam Rapat Paripurna. Dalam APBN yang disahkan, pemerintah dan DPR menetapkan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS untuk tahun anggaran 2027.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen domestik, termasuk perkembangan kebijakan fiskal pemerintah setelah APBN 2027 disahkan.

Dalam pembahasan APBN 2027, pemerintah dan DPR menyepakati sejumlah asumsi ekonomi makro. Pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 6 persen, sedangkan inflasi dipatok 2,5 persen.

Untuk nilai tukar, asumsi yang digunakan dalam APBN 2027 sebesar Rp17.500 per dolar AS. Angka tersebut menjadi salah satu dasar penyusunan postur anggaran tahun depan.

Dari sisi fiskal, pendapatan negara ditetapkan sebesar Rp3.435,1 triliun. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp4.106,2 triliun.

Dengan postur tersebut, defisit APBN 2027 dipatok sekitar Rp671,1 triliun atau 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah menyatakan kebijakan fiskal 2027 tetap diarahkan ekspansif, tetapi dengan defisit yang dijaga tetap terkendali.

Ibrahim menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen dibutuhkan untuk memperbesar kapasitas ekonomi nasional.

Salah satu strategi yang didorong pemerintah adalah meningkatkan nilai tambah ekspor sekaligus memperkuat investasi.

“Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% yang disepakati itu dibutuhkan untuk memperbesar kue ekonomi Indonesia. Salah satu strategi yang digunakan pemerintah adalah memperbesar nilai tambah ekspor dan investasi,” kata Ibrahim.

Dalam pengelolaan ekspor, pemerintah juga menyiapkan sejumlah kebijakan, antara lain skema ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia, kebijakan retensi Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), serta pengembangan bursa komoditas mineral.

Selain mengejar pertumbuhan, pemerintah dan DPR mempertahankan target defisit APBN 2027 sebesar 2,4 persen terhadap PDB.

Menurut Ibrahim, pengendalian defisit ditujukan untuk menjaga ruang fiskal agar APBN tetap dapat menjalankan fungsi anggaran sekaligus menerapkan prinsip kehati-hatian.

Dalam kesepakatan terbaru, belanja negara meningkat dibandingkan rancangan awal pemerintah. Namun, kenaikan tersebut diimbangi dengan peningkatan target pendapatan negara.

Pendapatan negara ditetapkan Rp3.435,1 triliun, sedangkan belanja mencapai Rp4.106,2 triliun. Selisih keduanya menghasilkan defisit sekitar Rp671,1 triliun.

Penutupan rupiah di level Rp17.981 per dolar AS menunjukkan posisi pasar pada 29 September masih lebih lemah dibandingkan asumsi kurs yang digunakan dalam APBN 2027.

Selisih tersebut tidak serta-merta menunjukkan perubahan terhadap asumsi APBN, karena angka Rp17.500 merupakan asumsi rata-rata nilai tukar yang digunakan dalam penyusunan anggaran 2027, bukan target harian pergerakan rupiah.

Pemerintah dan DPR tetap menggunakan asumsi tersebut sebagai salah satu dasar perencanaan fiskal tahun depan, bersama target pertumbuhan ekonomi 6 persen, inflasi 2,5 persen, serta defisit 2,4 persen terhadap PDB. (*)

Penulis: BungaEditor: Samin