Poengky Indarti Minta Warga Tidak Terburu-buru Simpulkan Kematian Rafi

Journalist Independent
Poengky Indarti Minta Warga Tidak Terburu-buru Simpulkan Kematian Rafi
Pemerhati kepolisian dan mantan Komisioner Kompolnas Poengky Indarti mendorong otopsi Rafi untuk mengungkap penyebab kematiannya.

JAKARTA – Pemerhati kepolisian sekaligus mantan Komisioner Kompolnas Poengky Indarti merespons kasus kematian Rafi alias Pengege dalam perang kelompok di Makassar. Ia mendorong Polrestabes Makassar melakukan otopsi untuk memastikan penyebab kematian korban sekaligus meminta seluruh pihak menghentikan aksi kekerasan antarkelompok.

Tanggapan Poengky muncul setelah Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana menyatakan polisi masih mendalami penyebab kematian Rafi. Arya juga meminta keluarga korban dan masyarakat memberi ruang kepada penyidik untuk bekerja mengungkap rangkaian kejadian tersebut.

Menurut Poengky, pemeriksaan secara ilmiah diperlukan agar penyelidikan memiliki dasar yang kuat. Ia meminta polisi mengamankan seluruh bukti di lokasi dan menggunakan pendekatan *scientific crime investigation*.

Poengky Minta Otopsi Rafi

Poengky menilai otopsi dapat membantu memastikan penyebab kematian Rafi. Hasil pemeriksaan tersebut nantinya dapat menjadi salah satu dasar bagi penyidik untuk menentukan arah penanganan perkara.

“Saya mendorong Polrestabes Makassar untuk melakukan otopsi guna mengetahui penyebab kematian Alm. Rafi. Dengan dilakukannya otopsi, maka akan diketahui apakah kematian Rafi karena tindak pidana atau bukan,” kata Poengky.

Selain pemeriksaan terhadap jenazah, Poengky meminta penyidik mengamankan dan mengumpulkan bukti dari lokasi kejadian. Menurut dia, setiap temuan harus diperiksa secara profesional untuk membangun rangkaian peristiwa berdasarkan fakta.

Langkah tersebut juga penting untuk menjawab berbagai informasi yang berkembang setelah Rafi ditemukan meninggal dalam peristiwa perang kelompok.

Minta Warga Tidak Berspekulasi

Poengky meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian Rafi. Ia menilai hasil pemeriksaan medis dan penyelidikan kepolisian harus menjadi rujukan sebelum pihak mana pun menyampaikan kesimpulan.

Ia juga mengajak kelompok yang terlibat konflik melakukan *cooling down* dan menghentikan aksi yang berpotensi memicu bentrokan baru.

“Stop kekerasan di Makassar. Makassar harus menjadi rumah yang damai untuk tempat tinggal bersama,” ujar Poengky.

Menurut Poengky, perbedaan suku, agama, bahasa, adat, dan budaya tidak seharusnya menjadi alasan masyarakat menyelesaikan persoalan melalui kekerasan. Ia meminta pemerintah dan aparat menggali akar masalah yang memicu konflik antarkelompok.

Dorong Pencegahan dari Tingkat Lingkungan

Poengky menilai penanganan tawuran tidak cukup hanya dilakukan setelah bentrokan terjadi. Pemerintah daerah dan kepolisian perlu memperkuat pencegahan dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat, serta tokoh agama.

Ia juga mendorong peningkatan patroli di kawasan yang dianggap rawan. Menurutnya, langkah pencegahan perlu berjalan bersama upaya mencari akar persoalan agar konflik tidak terus berulang.

Poengky turut menyebut konsumsi minuman keras dan narkoba sebagai kemungkinan faktor yang perlu diperiksa. Namun, ia menekankan faktor tersebut harus dibuktikan melalui pemeriksaan dan proses penegakan hukum, bukan berdasarkan dugaan semata.

Di sisi lain, ia mendorong masyarakat meningkatkan keamanan lingkungan melalui pemasangan CCTV dan penerangan jalan, terutama di titik yang rawan terjadi kekerasan. Jika memungkinkan, sistem kamera pengawas dapat terhubung dengan *command center* kepolisian untuk membantu pemantauan.

Kasus Rafi Menunggu Hasil Penyelidikan

Poengky menilai pengusutan kematian Rafi harus berjalan seiring dengan upaya menghentikan kekerasan antarkelompok di Makassar.

Ia mendorong polisi mengungkap perkara berdasarkan bukti, sementara masyarakat diminta menahan diri selama proses penyelidikan berlangsung.

Rafi meninggal setelah terjadi perang kelompok di kawasan Jalan Al Markaz, Kelurahan Lembo, Kecamatan Tallo. Polisi hingga kini masih mendalami penyebab kematiannya.

Poengky berharap proses hukum terhadap kasus tersebut berjalan profesional sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat pencegahan tawuran di Kota Makasar. (*)