JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memastikan Rupiah bertanda tangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Perry Warjiyo masih akan beredar karena proses pencetakan uang kertas berlangsung secara bertahap sesuai kebutuhan masyarakat.
Uang kertas tersebut belakangan menarik perhatian kolektor. Sebab, pecahan Rp100.000 Tahun Emisi (TE) 2022 dengan tahun cetak 2026 memuat tanda tangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan dan Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI.
Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan, penerbitan uang dengan tanda tangan pejabat sebelumnya bukan hal yang tidak lazim. BI mencetak uang secara berkala untuk menjaga ketersediaan uang kartal di tengah masyarakat.
“Hari ini terbit yang seri baru, tanda tangan dari Pak Menteri Keuangan yang lama dan Bapak Gubernur juga yang sebelumnya. Jadi hari ini keluar, atau beberapa hari yang lalu, tapi itu sudah ada. Ada yang minta kolektor,” ujar Destry dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
BI Cetak Uang Secara Bertahap
Destry menegaskan, BI menjalankan pencetakan uang sebagai bagian dari kegiatan operasional rutin. Bank sentral tidak mencetak seluruh kebutuhan uang dalam satu waktu.
“Cetak uang itu kan hal yang normal. Setiap tahun kita cetak uang,” kata Destry.
Menurut dia, BI membagi proses pencetakan dalam sejumlah tahap. Bank sentral menyesuaikan produksi dengan kebutuhan uang kartal yang muncul di berbagai wilayah.
“Harus selalu yang tiap tahun itu ada masanya. Jadi mencetak itu nggak langsung jebret di awal tahun atau di akhir tahun, tapi ada tahapan-tahapannya,” jelasnya.
Pola tersebut membuat uang dengan tanda tangan pejabat sebelumnya masih dapat masuk ke peredaran meski terjadi pergantian pejabat. Proses produksi juga mengikuti jadwal dan kebutuhan yang sudah direncanakan.
Uang Tunai Masih Dibutuhkan Masyarakat
Destry mengatakan, kebutuhan terhadap uang fisik masih tetap ada. Kondisi itu terutama terlihat di sejumlah wilayah yang belum memiliki akses jaringan pembayaran digital secara optimal.
“Khususnya untuk teman-teman kita yang masih ada di daerah, di luar jangkauan yang sinyalnya juga byar pet. Jadi itu hal yang biasa,” ungkap Destry.
Karena itu, BI tetap memperhitungkan kebutuhan uang kartal ketika menentukan jumlah uang yang harus dicetak dan diedarkan.
Bank sentral juga berkoordinasi dengan pemerintah dalam menyusun proyeksi jumlah uang beredar. Pembahasan tersebut mencakup kebutuhan uang kertas dan uang logam untuk periode berikutnya.
BI Hitung Kebutuhan Sebelum Mencetak
Destry menjelaskan, BI dan pemerintah membahas target jumlah uang beredar sebelum menentukan kebutuhan penerbitan uang pada periode tertentu.
“Sepanjang di awal itu selalu kita ada bicarakan dengan pemerintah, kira-kira berapa target dari uang beredar yang nanti akan di dalam satu periode,” ujar Destry.
Pembahasan biasanya semakin dimatangkan menjelang pergantian tahun. BI kemudian menghitung kebutuhan pencetakan berdasarkan proyeksi penggunaan uang kartal di masyarakat.
“BI punya target money supply seperti ini, pemerintah punya target issuance seperti apa, nah itu kemudian kita diskusikan termasuk di situ adalah berapa banyak BI berencana untuk mengeluarkan uang kartal atau mencetak uang kertas dan uang logam,” pungkasnya.
Rupiah Bertanda Tangan Purbaya Diburu Kolektor
Adapun Rupiah bertanda tangan Purbaya yang menjadi perhatian kolektor merupakan uang kertas pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2022 dengan tahun cetak 2026.
Uang tersebut memuat tanda tangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Perry Warjiyo. Kemunculannya menarik perhatian kolektor karena membawa kombinasi tanda tangan pejabat yang sebelumnya memegang posisi Menteri Keuangan dan Gubernur BI.
BI menegaskan pencetakan uang tersebut berkaitan dengan kebutuhan operasional dan ketersediaan uang kartal, bukan semata-mata karena permintaan kolektor. (*)





