Rupiah Melemah ke Rp17.902 per Dolar AS, BI Ungkap Penyebabnya

Ilustrasi uang.

JAKARTA — Nilai tukar Rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis (24/9/2026), Rupiah dibuka melemah 0,47 persen atau 84 poin ke level Rp17.902 per dolar AS.

Bank Indonesia (BI) menyebut sejumlah faktor global dan domestik turut menekan pergerakan mata uang Garuda. Salah satu pemicunya adalah menguatnya ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan perkembangan pasar keuangan global turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

“Pelemahan Rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal. Kondisi tersebut mendorong yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11%, tertinggi sejak 2007,” ujar Erwin di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Konflik Timur Tengah Ikut Tekan Rupiah

Selain kebijakan moneter AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Kekhawatiran itu kemudian mendorong harga minyak mentah Brent kembali menembus level USD100 per barel. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan terhadap kondisi ekonomi dan pasar keuangan global.

Dari dalam negeri, kebutuhan valuta asing juga meningkat menjelang berakhirnya kuartal III 2026. Pada saat yang sama, investor asing tercatat melakukan pelepasan portofolio dari sejumlah aset di negara berkembang.

BI Perkuat Intervensi Pasar

Menghadapi tekanan terhadap Rupiah, BI menyatakan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar agar pergerakannya tetap mencerminkan kondisi fundamental ekonomi.

“Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik. Penguatan strategi operasi moneter pro-market juga dilakukan untuk mengelola struktur suku bunga pasar uang,” kata Erwin.

BI juga memperkuat strategi stabilisasi sekaligus menjaga kecukupan likuiditas melalui peningkatan insentif Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk kebutuhan lindung nilai atau hedging pendanaan luar negeri.

Kebijakan tersebut mencakup transaksi modal portofolio, pinjaman luar negeri perbankan, hingga penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI).

Intervensi BI dilakukan menggunakan sejumlah instrumen di pasar keuangan.

“Intervensi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga terus diperkuat,” jelas Erwin.

BI Sebut Rupiah Masih Sejalan dengan Mata Uang Regional

Meski mengalami tekanan dalam perdagangan harian, BI menilai pergerakan Rupiah secara umum masih relatif terjaga. Pergerakannya juga dinilai masih mengikuti tren mata uang negara-negara di kawasan.

“Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan penguatan secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,46%. Cadangan devisa meningkat menjadi USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026,” ujar Erwin.

BI menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar global dan domestik serta menggunakan berbagai instrumen yang tersedia untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.