Cara 6 Aktivis Greenpeace Naik di Patung Bundaran HI Bentangkan Spanduk Kritik 2 Tahun Prabowo-Gibran

Journalist Independent
Spanduk Greenpeace
Spanduk kritik 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran terbentang di Bundaran HI yang dibentangkan aktivis Greenpeace. (dok. Greenpeace)

Dari atas ikon ibu kota setinggi 30 meter tersebut, mereka membentangkan spanduk raksasa bertuliskan pesan krisis iklim “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”

Bagi masyarakat awam, melihat sejumlah orang berada di puncak monumen tanpa tangga tentu menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana cara mereka bisa memanjat patung berstruktur vertikal dan licin tersebut tanpa merusak cagar budaya?

Mereka menggunakan cara Single Rope Technique (SRT) untuk naik di atas patung selamat datang tersebut.

Apa Itu Single Rope Technique (SRT)?

Single Rope Technique (SRT) adalah metode pemindahan posisi, baik naik (ascending) maupun turun (descending) di medan vertikal dengan menggunakan satu utas tali statis sebagai jalur utama.

Berbeda dengan teknik panjat tebing konvensional (rock climbing) yang mengandalkan pijakan tebing atau teknik lead climbing dengan dua tali, SRT memungkinkan seseorang bergerak menggantung sepenuhnya pada tali statis tersebut.

Teknik SRT awal mulanya populer dalam kegiatan penjelajahan goa vertikal (caving) dan perawatan pohon tinggi (arboriculture).

Namun, dalam perkembangannya, SRT menjadi standar teknis bagi rope access industri (pembersihan gedung tinggi), tim penolong (SAR), serta aktivis lingkungan profesional untuk aksi pembentangan spanduk (banner drop).

Bagaimana Aktivis Greenpeace Menggunakan SRT di Bundaran HI?

Monumen Patung Selamat Datang tidak memiliki akses tangga luar. Untuk mencapai puncaknya tanpa merusak struktur patung, para pemanjat Greenpeace memanfaatkan kombinasi SRT dan rope access:

Akses Tali Pertama (Line Throwing): Sebelum memanjat, aktivis memanfaatkan pelontar beban (throwline) untuk melewatkan tali tipis di bagian atas monumen. Tali tipis ini kemudian digunakan untuk menarik tali statis berstandar khusus (diameter 10,5 mm – 11 mm) ke atas hingga terpasang sempurna.

Penambatan (Anchoring): Ujung tali di bagian bawah diamankan pada tumpuan kokoh (ground anchor). Pelindung tali (rope protector) dipasang di titik-titik tumpuan atas agar gesekan tidak merusak tali maupun permukaan patung.

Meniti Naik (Ascending): Pemanjat yang mengenakan harness memasang dua alat mekanis penjepit tali, yaitu Chest Ascender (penjepit dada) dan Hand Ascender (penjepit tangan) yang terhubung ke tali pijakan kaki (foot loop).

Dengan mendorong pijakan kaki dan memindahkan alat naik secara bergantian, pemanjat bisa “meniti” tali hingga ke puncak tanpa perlu menyentuh dinding patung.

Pembentangan Spanduk: Begitu mencapai posisi atas, pemanjat mengamankan diri memakai lanyard (cowstail), lalu mengulur spanduk raksasa yang ditarik dari bawah.

Meluncur Turun (Descending): Setelah aksi selesai, alat naik dilepas dan digantikan dengan alat turun (descender). Pemanjat meluncur turun secara terkendali menggunakan kontrol gesekan alat. Dalam momen ini, para aktivis Greenpeace turun dengan cara flying fox dibantu oleh petugas pemadam kebakaran.

“Terima kasih tim Damkar! Kapan lagi bisa flying fox di Bundaran HI,” kata Greenpeace mengakhiri aksinya di patung HI. (lam)