Karhutla Masih Sisakan 639 Hektare, Prabowo Minta Tambahan 70.000 Polisi Hutan

Journalist Independent
Presiden Prabowo Subianto.
Presiden Prabowo Subianto.

Kabut Asap Hambat Operasi Water Bombing

BNPB bersama satuan tugas terkait telah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan kebakaran, termasuk melalui operasi pemadaman dari udara atau water bombing.

Namun, upaya tersebut menghadapi kendala akibat kabut asap tebal yang mengurangi jarak pandang. Kondisi ini menyebabkan pesawat dan helikopter belum dapat menjalankan operasi secara optimal di sejumlah lokasi.

Suharyanto mengatakan, satuan tugas udara telah berupaya bergerak dari sejumlah pangkalan, termasuk Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya dan Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin. Akan tetapi, kondisi jarak pandang yang terbatas menghambat pelaksanaan operasi.

“Sementara untuk Satgas Udara kami sudah coba bergerak baik dari Palangkaraya Tjilik Riwut maupun dari Syamsudin Noor Banjarmasin, sementara belum tembus karena visibility yang sangat tebal,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa gangguan jarak pandang tersebut turut berdampak pada berbagai kegiatan penerbangan di Kalimantan Tengah, termasuk operasi pemadaman udara dan modifikasi cuaca.

“Di Kalimantan Tengah ini operasi-operasi udara baik heli water bombing, operasi modifikasi cuaca maupun pesawat komersial sementara tidak dapat terbang karena visibility yang rendah,” jelas dia.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas dan peralatan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor cuaca serta keselamatan penerbangan.

Prabowo Apresiasi Penurunan Luas Kebakaran

Di sisi lain, Prabowo mengapresiasi kerja keras berbagai instansi yang terlibat dalam penanganan karhutla. Ia mengaku tidak menyangka luas area kebakaran yang sebelumnya mencapai ratusan ribu hektare dapat turun hingga di bawah 1.000 hektare berdasarkan laporan yang diterimanya.

“Tapi dari ratusan ribu (hektare), (yang terbakar) berapa minggu lalu kita sekarang di bawah 1.000 (hektare). Saya kira ini kalau nggak kita turun tangan secara besar-besaran, nggak bisa. Apalagi nanti kita mau adakan mitigasi kan, ke depan,” pungkasnya.

Meski demikian, laporan BNPB yang menyebut masih terdapat 639,23 hektare area terbakar menunjukkan bahwa upaya pemadaman belum sepenuhnya selesai. Terlebih, kebakaran di kawasan hutan dan lahan gambut membutuhkan penanganan yang cermat karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan berpotensi kembali muncul.

Pemerintah pun menempatkan penguatan mitigasi sebagai salah satu langkah penting untuk menekan risiko kebakaran pada masa mendatang.

Selain operasi pemadaman, penambahan personel polisi hutan, pelatihan oleh TNI dan Polri, serta pelibatan ahli dari perguruan tinggi diharapkan dapat memperkuat strategi perlindungan hutan secara menyeluruh.

Dengan langkah tersebut, pemerintah berupaya tidak hanya menangani kebakaran yang sedang berlangsung, tetapi juga memperkuat pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali meluas pada musim kemarau berikutnya.