Jakarta Urutan Pertama! Ini 10 Kota Dunia yang Diprediksi Terancam Lenyap

Journalist Independent
Ilustrasi Kota Jakarta.
Ilustrasi Kota Jakarta.

6. Virginia Beach, Amerika Serikat

Virginia Beach, yang berada di pesisir timur Amerika Serikat, termasuk wilayah yang menghadapi ancaman kenaikan permukaan laut. Risiko tersebut semakin kompleks karena perubahan ketinggian air laut relatif terhadap daratan juga dipengaruhi oleh penurunan tanah.

Laporan WEF pada 2019 mengutip proyeksi kenaikan permukaan laut yang dapat mendekati 12 kaki atau sekitar 3,7 meter pada 2100 di wilayah tersebut.

Angka itu merupakan proyeksi yang dikutip dalam laporan, bukan kepastian mengenai kondisi yang akan terjadi. Besaran perubahan permukaan laut bergantung pada berbagai faktor, termasuk skenario perubahan iklim dan kondisi geologis setempat.

Jika permukaan laut meningkat, kawasan permukiman, jalan, dan fasilitas umum yang berada di dataran rendah dapat menghadapi risiko genangan yang lebih besar.

Perencanaan perlindungan pantai, pengembangan sistem drainase, serta pemetaan kawasan rawan banjir menjadi langkah penting untuk mengantisipasi dampak perubahan tersebut.

7. Bangkok, Thailand

Bangkok menghadapi ancaman banjir karena berada di dataran rendah dan mengalami penurunan permukaan tanah di sejumlah kawasan. Kondisi ini dapat memperburuk genangan ketika curah hujan tinggi terjadi bersamaan dengan peningkatan permukaan air.

Laporan The Guardian yang dikutip WEF menyebutkan penurunan tanah di Bangkok melampaui 1 sentimeter per tahun. Laporan tersebut juga mengangkat perkiraan bahwa sebagian wilayah kota berpotensi berada di bawah permukaan laut pada 2030.

Proyeksi itu tidak berarti seluruh Bangkok akan tenggelam pada tahun tersebut. Risiko yang dihadapi berbeda-beda sesuai ketinggian daratan dan kondisi lingkungan setiap kawasan.

Salah satu pendekatan yang diterapkan untuk mengatasi limpasan air hujan adalah pembangunan Chulalongkorn University Centenary Park. Taman seluas sekitar 11 hektare ini dirancang bukan hanya sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga sebagai fasilitas untuk menampung air hujan.

Taman tersebut dilaporkan mampu menampung hingga 1 juta galon air, sehingga membantu menahan limpasan sebelum air dialirkan ke sistem drainase.

Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana ruang terbuka dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi pengendalian banjir perkotaan. Meski demikian, upaya tersebut perlu didukung pengelolaan air tanah, perbaikan drainase, dan perencanaan tata ruang yang berkelanjutan.

8. New Orleans, Amerika Serikat

New Orleans, Louisiana, memiliki kondisi geografis yang membuat sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Kota ini juga terletak di kawasan delta Sungai Mississippi, sehingga menghadapi risiko banjir dari berbagai arah.

Penelitian NASA yang diterbitkan pada 2016 menemukan bahwa penurunan permukaan tanah terjadi dengan kecepatan berbeda di sejumlah lokasi New Orleans dan wilayah sekitarnya. Di beberapa titik, penurunan tersebut mencapai sekitar 2 inci atau 5 sentimeter per tahun.

Pemompaan air tanah dan pengeringan lahan disebut sebagai faktor yang ikut memengaruhi perubahan ketinggian daratan. Namun, laju penurunan tersebut tidak berlaku seragam untuk seluruh wilayah kota.

Ketika permukaan tanah turun, perlindungan terhadap banjir menjadi semakin menantang. Kawasan yang berada lebih rendah dapat menghadapi risiko lebih besar ketika hujan ekstrem, badai, atau kenaikan permukaan air terjadi.

Sebagian wilayah New Orleans diperkirakan menghadapi ancaman genangan jangka panjang hingga 2100. Meski demikian, proyeksi tersebut tidak berarti seluruh kota pasti akan tenggelam.

Pemeliharaan tanggul, peningkatan sistem drainase, pemantauan perubahan permukaan tanah, dan penguatan infrastruktur perlindungan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana di kota tersebut.

9. Rotterdam, Belanda

Rotterdam merupakan salah satu kota di Belanda yang mengandalkan sistem pengelolaan air untuk melindungi kawasan perkotaan. Kondisi geografis negara tersebut membuat sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut, sehingga pengendalian banjir menjadi prioritas dalam pembangunan.

Menurut laporan The New York Times yang dikutip WEF, sekitar 90 persen wilayah Rotterdam berada di bawah permukaan laut.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Belanda mengembangkan pendekatan Room for the River, yakni memberikan ruang tambahan bagi sungai agar dapat menampung dan mengalirkan air ketika debit meningkat.

Strategi ini dilakukan melalui penataan kawasan sekitar sungai dan penyediaan ruang yang memungkinkan air meluap secara lebih terkendali. Selain itu, taman penampung air dan infrastruktur penghalang juga digunakan untuk mengurangi risiko banjir.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa perlindungan kota tidak selalu hanya bergantung pada pembangunan tanggul yang lebih tinggi. Pengaturan tata ruang dan pemberian ruang bagi air juga dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi.

Bagi Rotterdam, tantangan jangka panjang terletak pada kemampuan mempertahankan efektivitas sistem perlindungan seiring kenaikan permukaan laut dan perubahan kondisi lingkungan.

10. Alexandria, Mesir

Alexandria merupakan kota pelabuhan di pesisir Laut Mediterania yang menghadapi ancaman perubahan garis pantai dan kenaikan permukaan laut.

Penyusutan sejumlah kawasan pantai menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian. Perubahan tersebut dapat memengaruhi wilayah pesisir yang digunakan untuk permukiman, kegiatan ekonomi, dan pariwisata.

Dalam laporan yang dirujuk WEF, kenaikan permukaan Laut Mediterania diperkirakan dapat mencapai sekitar 2 kaki atau 61 sentimeter pada 2100.

Jika permukaan laut meningkat, sejumlah kawasan dataran rendah di Alexandria dapat menghadapi risiko banjir pesisir yang lebih besar. Namun, besarnya dampak akan bergantung pada ketinggian daratan, perubahan garis pantai, dan efektivitas sistem perlindungan yang tersedia.

Pengelolaan kawasan pesisir, pemantauan abrasi, serta pembangunan infrastruktur yang mempertimbangkan perubahan iklim menjadi langkah penting untuk mengurangi kerentanan kota tersebut.

Ancaman terhadap Alexandria juga memperlihatkan bahwa perubahan permukaan laut dapat berdampak langsung pada kota-kota bersejarah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap aktivitas pesisir.