IHSG Anjlok 2,59% ke Level Terendah Tiga Bulan, Saham Konglomerasi Tertekan

Journalist Independent
Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.

Journalis Independent, JAKARTA – Gelombang aksi jual mengguncang Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 12 Oktober 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan 157,61 poin atau 2,59 persen ke level 5.936,15, sekaligus menyentuh posisi terendah dalam tiga bulan terakhir.

Tekanan meluas ke mayoritas saham ketika investor menghadapi ketidakpastian global, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran terhadap arus modal asing.

Koreksi tersebut menghapus penguatan yang sempat muncul pada awal perdagangan. IHSG sempat dibuka di level 6.109,32 dan menyentuh posisi tertinggi 6.128,72.

Namun, tekanan jual terus meningkat hingga indeks menyentuh level terendah intraday 5.917,39 sebelum mengakhiri perdagangan di 5.936,15.

Data perdagangan memperlihatkan betapa luasnya tekanan pasar. Sebanyak 602 saham mengalami penurunan harga, sedangkan 114 saham menguat dan 77 saham bertahan tanpa perubahan.

Aktivitas transaksi mencapai sekitar 61,77 miliar saham dengan nilai Rp13,39 triliun dan frekuensi 1.867.392 kali.

Nilai transaksi tersebut juga lebih rendah daripada rata-rata harian pekan sebelumnya yang mencapai Rp16,23 triliun.

Meski demikian, pelemahan harga yang terjadi secara luas menunjukkan tekanan jual tidak hanya menyasar beberapa saham tertentu.

Saham Konglomerasi Menyeret IHSG

Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi salah satu sumber tekanan terhadap indeks. Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai saham konglomerasi menyumbang sekitar 22 persen dari total penurunan IHSG pada perdagangan tersebut.

“Koreksi hari ini menunjukkan rentannya IHSG terhadap konsentrasi indeks dan risiko likuiditas pada saham-saham tertentu,” ujar Rully dalam catatannya.

Sejumlah saham mencatat koreksi tajam. DSSA turun 14,60 persen menjadi Rp965 per saham, BREN melemah 11,48 persen ke Rp2.390, sedangkan TPIA terkoreksi 10,15 persen ke Rp1.505.

Saham BBCA juga turun 1,65 persen ke Rp5.950, mendekati level terendahnya dalam tiga bulan.

Tekanan turut menyentuh saham BYAN, MORA, SINI, JARR, TINS, dan INDY. Pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar tersebut penting karena bobotnya dapat memengaruhi arah IHSG secara signifikan.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, menilai investor perlu mencermati pergerakan saham konglomerasi dan perbankan.

Ketika saham dengan bobot besar mengalami aksi jual, indeks dapat merosot tajam meskipun beberapa saham lain masih mampu bertahan.

Harga Minyak dan Rupiah Menambah Tekanan

Analis Phintraco Sekuritas menyoroti kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membebani pasar. Ketidakpastian geopolitik, harga minyak mentah yang tinggi, serta kekhawatiran keluarnya modal asing membuat investor semakin berhati-hati.

Harga minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel menambah perhatian terhadap risiko inflasi dan biaya energi.

Sementara itu, pelaku pasar terus memantau arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta perkembangan konflik geopolitik.

Situasi regional juga memanas setelah kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan ke wilayah Arab Saudi, termasuk infrastruktur minyak Aramco dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.

Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi.

Dari dalam negeri, rupiah melemah 0,08 persen hingga mencapai Rp17.899 per dolar AS. Pelemahan mata uang domestik dan potensi berlanjutnya aksi jual bersih investor asing turut membatasi ruang pemulihan pasar saham.

Analis Phintraco memperingatkan bahwa indikator teknikal juga menunjukkan tekanan belum mereda.

“Secara teknikal, terjadi pelebaran histogram negatif MACD dan Stochastic RSI membentuk Death Cross di area pivot. Sehingga IHSG diperkirakan menguji level 5.800-5.900 pada perdagangan Selasa (13/10),” jelas analis Phintraco Sekuritas.

Sentimen MSCI Masih Membayangi Investor

Selain faktor geopolitik dan nilai tukar, pasar saham Indonesia masih menghadapi ketidakpastian terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI). Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai tekanan pada awal pekan tidak hanya berasal dari saham berkapitalisasi besar, tetapi telah meluas ke banyak saham.

Investor juga mencermati kemungkinan MSCI tetap menahan rebalancing saham Indonesia dalam tinjauan November 2026.

Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan penilaian terhadap perkembangan reformasi pasar modal yang dinilai belum menunjukkan bukti signifikan.

Meski begitu, Liza mengingatkan agar pelaku pasar tidak menghubungkan seluruh penurunan dengan MSCI tanpa perkembangan baru yang terkonfirmasi.

“Tapi tanpa perkembangan baru yang terkonfirmasi, terlalu jauh kalau seluruh koreksi hari ini dianggap gara-gara MSCI,” ujarnya.

Ia juga meluruskan rumor mengenai kemungkinan MSCI menjatuhkan denda kepada Indonesia atau saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerasi tertentu.

“MSCI itu penyedia indeks, bukan regulator atau pengadilan yang bisa mendenda Indonesia,” tegas Liza.

Menurutnya, peluang IHSG mencatat penguatan selama Oktober masih terbuka secara historis. Namun, Kiwoom Sekuritas hanya memperkirakan probabilitas penguatan sekitar 55 persen karena tantangan pasar pada bulan ini cukup berat.

Peluang Rebound Masih Terbuka

Rully mengingatkan bahwa penurunan indeks tidak otomatis mencerminkan kemerosotan prospek laba seluruh emiten dalam skala yang sama.

Investor masih perlu membedakan tekanan harga saham jangka pendek dari kinerja fundamental perusahaan.

Nafan juga menilai peluang pemulihan teknikal tetap tersedia jika investor mulai melakukan pembelian saat harga melemah atau bargain hunting.

Namun, arah pemulihan akan bergantung pada perkembangan transaksi, pergerakan saham berkapitalisasi besar, dan dinamika investor asing.

Pelaku pasar kini menghadapi sejumlah agenda penting, termasuk rilis data inflasi Amerika Serikat dan rapat kebijakan Bank Indonesia.

Kedua agenda tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga, pergerakan rupiah, serta keputusan investasi.

Dengan IHSG yang kembali berada di bawah level 6.000, investor perlu mencermati area 5.800 hingga 5.900 sebagai zona pengujian berikutnya.

Tekanan jual yang berlanjut dapat memperpanjang koreksi, sedangkan munculnya pembelian pada saham unggulan berpotensi membuka jalan bagi rebound.

Untuk sementara, volatilitas masih menjadi risiko utama pasar saham Indonesia. Pergerakan IHSG selanjutnya akan sangat bergantung pada meredanya tekanan eksternal, stabilitas rupiah, dan kemampuan saham-saham berkapitalisasi besar menghentikan koreksi. (*)