SULSEL  

Serapan Beras di Sulsel Hasilkan Perputaran Uang Rp10 Triliun bagi Petani

Journalist Independent
Pimpinan Bulog Sulselbar, Fahrurozi. (dok. JI)

JI, MAKASSAR — Hasil penyerapan beras di Sulawesi Selatan (Sulsel) menghasilkan perputaran uang di petani hampir Rp10 triliun atau Rp9,750 triliun. Perum Bulog Sulselbar menyerap beras sebanyak 771 ribu ton sepanjang 2026.

“Kalau disetarakan gabah, itu beras, kalau dijadiin gabah itu kira-kira 1,5 juta ton gabah. 1,5 juta ton gabah dikali Rp6.500, ya, itu kira-kira hampir Rp10 triliun dana di Sulawesi Selatan itu berputar,” kata Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sulselbar, Fahrurozi kepada wartawan, Jumat (9/9/2026).

Ia menyebut, uang itu berputar di para petani se-Sulsel. Hal ini juga kata Fahrurozi meningkatkan pendapatan para petani, itu terbukti dari nilai tukar petani (NTP) yang terus meningkat.

NTP Petani Sentuh Level Tertinggi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), NTP nasional pada September 2026 tercatat 131,11, naik 1,49 persen dibandingkan Agustus 2026 yang berada di angka 129,19.

NTP merupakan indikator yang membandingkan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. Sederhananya, indikator ini digunakan untuk melihat daya tukar atau daya beli petani dari hasil usaha pertaniannya terhadap barang dan jasa yang mereka konsumsi maupun biaya produksi.

“Kami berharap itu menjadi bantuan kesejahteraan, menjadi booster istilahnya untuk kesejahteraan petani sehingga mudah-mudahan petani banyak yang meningkat kesejahteraannya, bisa umrah, bisa menyekolahkan anak-anaknya, sehingga petani-petani maupun keluarganya itu bisa naik level lah,” jelas Fahrurozi.

Petani Diklaim Sejahtera

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) Indonesia kini berada di angka 131. Ia mengaku nilai itu menjadi tertinggi sepanjang sejarah.

“Saya juga Alhamdulillah baru ketemu petani, ya, di Konawe Selatan. Alhamdulillah petani kita sekarang dalam sejarah, ya, tertinggi nilai tukarnya. Artinya petani makmur sekarang. Nilai tukarnya 131,” kata Zulhas sapaannya.

Ia kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan kebijakan sektor pertanian di bawah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. “Di bawah pimpinan Pak Amran, Andi Amran Sulaiman sebagai Mentan, alhamdulillah petani kita lebih makmur. Sekarang nilai tukarnya 131, tertinggi sepanjang sejarah,” ujarnya.

Data BPS memang menunjukkan NTP nasional September 2026 berada di angka 131,11. Namun, penyebutan angka tersebut sebagai “tertinggi sepanjang sejarah” merupakan klaim yang perlu ditempatkan dalam konteks seri data NTP yang digunakan. Data BPS terbaru menunjukkan angka September 2026 merupakan level tertinggi dalam deret NTP nasional 2026 yang tersedia hingga September.

Stok dan Serapan Bulog Sulselbar

Stok beras Perum Bulog Sulselbar mencapai 966 ribu ton dengan serapan 2026 sebanyak 771 ribu ton yang merupakan tertinggi sepanjang sejarah.

Fahrurozi, menyampaikan serapan Bulog tertinggi itu 597 ribu ton setara beras, kini mencetak rekor lagi di angka 771 ribu ton. Peningkatannya signifikan walau terjadi el nino.

“El Nino kan baru mulai setelah musim panen; bulan Juli, Juli ke Agustus kekeringannya. Jadi memang baru mulai setelah panen raya.
Kejadian di El Nino ini kan upaya yang dilakukan pemerintah cukup banyak, pompanisasi dan segala macam dalam rangka memastikan produksi tetap berjalan,” katanya usai menggelar tasyakuran Pengadaan 4 Juta Ton Beras secara Nasional, di kantornya, Jumat (9/10/2026).

Fahrurozi mengaku, Bulog Sulselbar masih akan mengoptimalkan serapan beras dalam sisa tahun 2026 ini. Kedepan, akan ada panen di beberapa wilayah Sulsel.

“Masih ada seikit panen di wilayah Luwu itu masih ada 40 persenan luas tanam yang di sana masih potensi panen, kami masih melakukan optimalisasi serap,” ungkapnya.

Pengadaan Beras Nasional Capai 4 Juta Ton, Bulog Sulselbar Serapan Tertinggi Kedua

Pengadaan beras pada tahun 2026 ini mencapai 4 juta ton secara nasional. Perum Bulog Sulselbar pun menjadi wilayah dengan serapan tertinggi kedua setelah Jawa Timur.

Fahrurozi mengungkap, serapan beras Bulog Sulselbar sudah melewati target yang diberikan. Kini serapan setara beras mencapai 771 ribu ton dengan target 697 ribu ton.

Atas capaian itu, Perum Bulog Sulselbar menggelar tasyakuran di Kantor Bulog Sulselbar yang mengundang anak yatim-piatu dan membagikan bingkisan kepada mereka.

“Ucapan terima kasih ini tentu tidak afdol kalau enggak kita sampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo, dan Bapak Menteri Pertanian atas arahan, dukungan terhadap penguatan ketahanan pangan dan percepatan terwujudnya swasembada pangan nasional,” beber Fahrurozi.

Selain itu, ia juga mengapresiasi kerja-kerja yang dilakukan oleh TNI-Polri yang membantu langsung di lapangan dalam penyerapan gabah milik petani, serta dukungan dari Pemda.

“Tentu juga petani Indonesia, khususnya petani-petani di Provinsi Sulawesi Selatan yang atas kerja kerasnya dan kontribusinya sehingga kita bisa merealisasikan swasembada pangan berkelanjutan,” ucap Fahrurozi.

Dengan stok terbanyak sepanjang sejarah ini, ia punya tugas untuk memastikan agar beras tetap layak dikonsumsi selama berada di gudang.

“Dalam hal perawatan, kami juga bekerja sama dengan anak perusahaan kami namanya Jurudatasma untuk memantau manakala ada laporan dari petugas-petugas kami yang kami rekrut, itu ada kejadian atau berasnya mungkin ada yang kebocoran, ada yang mungkin mengalami kerusakan. Kami segera lakukan tindakan perbaikan untuk kemudian kami olah kembali,” jelas Fahrurozi. (ril)