Journalist Independent, LUWU TIMUR – Kebakaran lahan seluas sekitar 25 hektare di Desa Kalukuluku, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, berhasil dipadamkan setelah petugas pemadam kebakaran berjibaku selama hampir tiga jam.
Meski api telah terkendali, potensi munculnya titik api baru masih menjadi perhatian akibat cuaca panas dan angin kencang.
Kebakaran yang terjadi pada Sabtu sore, 17 Oktober 2026, itu menjadi peringatan bagi wilayah Towuti yang dalam beberapa pekan terakhir kembali menghadapi kejadian serupa.
Kondisi lahan yang berbukit, jauhnya sumber air, serta luas area yang terbakar membuat proses pemadaman tidak berjalan mudah.
Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Luwu Timur menerima laporan kejadian pada pukul 17.16 Wita. Petugas kemudian bergerak menuju lokasi dan tiba tujuh menit setelah laporan diterima, tepatnya pukul 17.23 Wita.
Kepala Bidang Pemadam, Penyelamatan, Sarana dan Prasarana Damkar Luwu Timur, Hamka, mengatakan kecepatan respons tersebut menjadi bagian dari upaya mengendalikan kebakaran agar tidak semakin meluas.
“Petugas tiba di lokasi tujuh menit setelah menerima laporan,” kata Hamka, Minggu, 18 Oktober 2026.
Operasi pemadaman berlangsung hingga pukul 20.05 Wita. Dengan demikian, petugas membutuhkan waktu sekitar dua jam 42 menit sejak tiba di lokasi untuk memastikan api berhasil dipadamkan.
Sebanyak empat personel Regu 01 dari Posko Nuha dikerahkan dalam penanganan kebakaran tersebut. Mereka menghadapi medan yang menyulitkan pergerakan sekaligus keterbatasan akses terhadap sumber air untuk mendukung proses pemadaman.
Sumber Air Jauh Jadi Kendala
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Luwu Timur, Guntur Hafid, mengungkapkan bahwa kondisi geografis menjadi salah satu hambatan utama selama operasi berlangsung.
“Kendalanya wilayah berbukit, jauh dari sumber air, dan luasnya lahan terbakar,” ujarnya.
Luasnya area yang terdampak membuat petugas harus bekerja untuk memastikan api tidak terus menjalar ke bagian lahan lainnya. Sementara itu, lokasi yang jauh dari sumber air menambah tantangan dalam menjaga efektivitas pemadaman.
Setelah api utama berhasil dikendalikan, petugas tetap menaruh perhatian terhadap kemungkinan munculnya titik panas baru. Kondisi cuaca yang kembali terik dapat memicu bara tersisa menyala lagi, terlebih apabila disertai tiupan angin kencang.
Hingga Minggu pagi, belum ada laporan mengenai titik api susulan di lokasi kebakaran Desa Kalukuluku. Meski demikian, situasi tersebut belum membuat kewaspadaan sepenuhnya dihentikan.
“Untuk sementara sudah tidak ada titik api. Namun, tetap diwaspadai karena cuaca kembali panas,” kata Guntur.
Menurut dia, perubahan kondisi cuaca perlu menjadi perhatian setelah kebakaran berhasil dipadamkan. Bara yang masih tersisa berpotensi kembali menyala apabila kondisi lingkungan mendukung terjadinya pembakaran.
Karena itu, pemantauan lanjutan diperlukan untuk memastikan api tidak kembali muncul dan meluas ke area yang sebelumnya tidak terdampak.
Towuti Kembali Dilanda Kebakaran Lahan
Kebakaran di Desa Kalukuluku menambah catatan kejadian kebakaran lahan di Kabupaten Luwu Timur selama Oktober 2026. Sebelumnya, kebakaran juga terjadi di Kecamatan Malili pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Dua hari kemudian, tepatnya Senin, 5 Oktober 2026, kebakaran dilaporkan terjadi di tujuh titik di Kecamatan Towuti. Peristiwa tersebut menghanguskan lahan dengan luas mencapai sekitar 56 hektare.
Jika melihat dua kejadian di Towuti pada 5 dan 17 Oktober, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 81 hektare.
Angka itu merupakan penjumlahan berdasarkan luasan yang dilaporkan dalam kedua peristiwa tersebut, bukan total seluruh kebakaran di Kabupaten Luwu Timur selama Oktober.
Rentetan kejadian tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran lahan masih menjadi persoalan yang perlu diantisipasi di wilayah Luwu Timur, khususnya ketika cuaca panas meningkatkan risiko api menyebar.
Penanganan kebakaran di wilayah dengan medan sulit membutuhkan respons cepat, dukungan personel, serta akses terhadap sumber air.
Pada saat bersamaan, pengawasan setelah pemadaman menjadi penting agar api tidak kembali menyala dari sisa bara.
Warga Diminta Waspadai Potensi Api Susulan
Kondisi kebakaran yang telah padam tidak serta-merta menghilangkan seluruh risiko. Cuaca panas dan angin kencang dapat memperbesar kemungkinan bara kembali menyala, terutama di area yang memiliki sisa material kering.
Masyarakat di sekitar lokasi kebakaran perlu meningkatkan kewaspadaan apabila melihat asap atau titik api baru.
Informasi mengenai kemunculan api sebaiknya segera disampaikan kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.
Kewaspadaan juga penting di wilayah lain di Kecamatan Towuti yang sebelumnya mengalami kebakaran.
Pengawasan terhadap lahan rawan dapat membantu mempercepat deteksi apabila muncul tanda-tanda kebakaran baru.
Bagi petugas Damkar Luwu Timur, tantangan tidak hanya terletak pada memadamkan api yang sudah membesar, tetapi juga memastikan kondisi tetap aman setelah operasi selesai.
Medan berbukit dan keterbatasan sumber air menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam penanganan kejadian serupa.
Kebakaran di Kalukuluku kini telah berhasil dipadamkan. Namun, dengan luas lahan terdampak sekitar 25 hektare dan cuaca yang masih berpotensi memicu bara menyala kembali, pemantauan tetap diperlukan untuk mencegah kejadian susulan di Towuti, Luwu Timur. (*)






