JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengancam akan memutus kerja sama dengan yayasan yang dinilai hanya mengejar keuntungan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi tidak memberikan kontribusi nyata dalam operasional maupun permodalan.
Ancaman tersebut disampaikan setelah BGN menemukan adanya praktik pungutan atau potongan dana yang tidak semestinya terhadap mitra penyedia dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sudaryono mengatakan, BGN menemukan kasus yayasan yang tidak memiliki kontribusi dalam pembangunan maupun pengelolaan dapur SPPG, tetapi tetap meminta setoran dari mitra yang telah mengeluarkan modal untuk menjalankan program MBG.
“Pada praktiknya ini kami menemukan satu fakta bahwa mitra sama yayasan ini ada yang kemudian berkonflik. Mitra itu adalah orang yang punya modal, dia membangun dapurnya, keluar biaya. Yayasan itu kemudian tidak nyambung sama mitranya,” kata Sudaryono.
Potongan Rp1.500-Rp2.000 per Porsi
Berdasarkan laporan yang diterima BGN, potongan yang diminta oleh oknum yayasan kepada mitra penyedia MBG berkisar antara Rp1.500 hingga Rp2.000 untuk setiap porsi makanan.
Menurut Sudaryono, praktik tersebut tidak bisa dibiarkan karena berpotensi langsung memengaruhi kualitas makanan yang diterima para penerima manfaat.
Ia menjelaskan, ketika mitra harus menanggung potongan dalam jumlah tertentu dari setiap porsi, terdapat risiko pengurangan kualitas maupun komposisi menu untuk menekan biaya operasional.
“Ada mitra, dia dipotong 1.500, ada yang dipotong 2.000, bayangkan! Yang terjadi adalah karena dipotong, dia makan menunya itu dikurangi kualitasnya. Ini tidak boleh lagi terjadi,” tegasnya.
Sudaryono menegaskan pembenahan tata kelola menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program MBG. BGN, kata dia, tidak ingin pihak yang tidak memiliki kontribusi justru mengambil keuntungan dengan membebani mitra penyedia.
Karena itu, BGN akan mengevaluasi hubungan kerja sama dengan yayasan yang dinilai tidak memiliki peran nyata, tetapi tetap meminta setoran kepada mitra dapur SPPG.
“Pokoknya orang-orang yang tidak ada andil, tidak membina, tidak ikut repot, tidak modal… hanya minta kejar setoran, itu semua akan kami amputasi semua,” katanya.
BGN memastikan pembenahan tersebut dilakukan untuk menjaga agar anggaran dan dukungan yang disalurkan melalui program MBG benar-benar digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan bergizi bagi para penerima manfaat.
Sudaryono menyebut langkah tegas terhadap praktik potongan dana menjadi bagian dari upaya BGN memperbaiki tata kelola MBG.
Persoalan hubungan antara yayasan dan mitra penyedia menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian agar tidak mengganggu kualitas layanan dan pemenuhan gizi dalam program tersebut.
BGN pun menegaskan akan mengambil tindakan terhadap pihak-pihak yang dinilai menyalahgunakan hubungan kerja sama untuk memperoleh keuntungan tanpa memberikan kontribusi yang sepadan. (bas)






