NEWS  

Istri Mantan Menkue Memlilih Jualan Nasi Bungkus, Setelah Dicopot

Journalist Independent
Istri Mantan Menkue Memlilih Jualan Nasi Bungkus, Setelah Dicopot
Ilustrasi: Nasi Kuning.

JAKARTA – Pergantian jabatan Menteri Keuangan pada 1998 tidak membuat keluarga Mar’ie Muhammad berhenti bergerak di tengah krisis ekonomi. Setelah Mar’ie Muhammad meninggalkan kursi bendahara negara, sang istri, Ayu Resmiyati atau Etty Mar’ie Muhammad, justru memilih membantu mahasiswa melalui warung nasi murah.

Mar’ie Muhammad mengakhiri masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan pada 16 Maret 1998. Saat itu, Presiden Soeharto membentuk Kabinet Pembangunan VII dan menunjuk Fuad Bawazier sebagai penggantinya.

Pergantian tersebut mengakhiri masa pengabdian Mar’ie di Kementerian Keuangan yang dimulai pada 1993. Namun, berakhirnya jabatan tidak serta-merta membuat keluarga Mar’ie menjauh dari persoalan masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.

Warung Nasi Murah di Tengah Krisis 1998

Di tengah krisis moneter yang mengguncang Indonesia, Etty Mar’ie Muhammad mengambil langkah sederhana melalui Yayasan Permata Sari yang dipimpinnya.

Pada penghujung 1998, yayasan tersebut mendirikan warung nasi murah di kawasan Universitas Indonesia (UI) Depok dan IKIP, yang kini dikenal sebagai Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Warung tersebut menyasar mahasiswa yang ikut merasakan beratnya tekanan ekonomi. Harga kebutuhan meningkat, sementara kemampuan masyarakat untuk membeli makanan ikut tertekan.

Etty kemudian menjual nasi bungkus dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga makanan pada umumnya saat itu.

Satu porsi nasi berisi ayam goreng, sayur, dan air mineral dijual hanya Rp1.000. Setiap hari, sekitar 150 bungkus nasi disiapkan untuk mahasiswa.

Langkah tersebut menjadi bentuk bantuan langsung yang menyentuh kebutuhan paling dasar: makanan.

Mar’ie Muhammad Ikut Membagikan Makanan

Kegiatan kemanusiaan keluarga Mar’ie Muhammad tidak hanya berlangsung melalui warung nasi murah.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Keuangan, Mar’ie bergabung dengan Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI). Ia ikut membantu menyediakan makanan bagi mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi dan masyarakat yang terdampak krisis ekonomi.

Dalam buku autobiografi Mr. Clean Mar’ie Muhammad yang terbit pada 2025, kisah tersebut kembali diungkap.

Asisten pribadi Mar’ie mengenang bagaimana keluarga tersebut menyiapkan makanan dalam jumlah besar selama masa krisis.

“Setiap hari, kami menyiapkan seratus nasi bungkus, pernah sampai hampir seribu bungkus karena Bapak tidak pernah lupa pada orang-orang di sekitar kami, termasuk tukang bajaj di belakang kantor.”

Kebutuhan makanan bahkan sempat meningkat hingga hampir 1.000 bungkus dalam sehari.

Kondisi tersebut menggambarkan situasi masyarakat ketika krisis moneter menghantam berbagai lapisan. Mahasiswa, pekerja informal, dan masyarakat kecil sama-sama menghadapi tekanan ekonomi.

Dari Kursi Menteri ke Gerakan Kemanusiaan

Mar’ie Muhammad sebelumnya dikenal sebagai pejabat yang mendapat julukan Mr. Clean. Ia menjadi Menteri Keuangan pada 1993 hingga akhirnya digantikan pada Maret 1998.

Dalam perjalanan setelah meninggalkan pemerintahan, Mar’ie tetap aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ia kemudian terlibat dalam berbagai aktivitas, termasuk di Palang Merah Indonesia (PMI).

Sementara itu, langkah Etty melalui warung nasi murah menunjukkan bentuk bantuan yang sederhana tetapi langsung menyasar kebutuhan mahasiswa.

Keluarga tersebut memilih bergerak di tengah situasi yang serba sulit. Tidak lagi berada di lingkaran pemerintahan, mereka tetap menjalankan kegiatan yang bersentuhan dengan masyarakat.

Mar’ie Muhammad kemudian meninggal dunia pada 11 Desember 2016.

Kisah keluarga Mar’ie pada masa krisis 1998 meninggalkan catatan tersendiri. Setelah pergantian jabatan di tengah gejolak ekonomi, bantuan yang mereka lakukan justru hadir melalui hal sederhana: makanan murah dan nasi bungkus bagi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan. (*)