NEWS  

Dubes Inggris Sambangi PLUT Sulsel, Buka Peluang Kerja bagi Talenta Muda

Journalist Independent
Dubes Inggris untuk Indonesia sambangi PLUT Sulsel
Dubes Inggris untuk Indonesia Dominic berkunjung ke PLUT Sulsel. (dok. for Journalist Independent)

Kepala UPT PLUT KUMKM Sulsel, Luqi Ubaidi Azis Halim, yang mewakili Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, mengapresiasi kolaborasi Pemerintah Inggris, British Council, Trio Pabeta Indonesia, dan pelaku usaha dalam mendorong pengembangan keterampilan digital serta pemberdayaan UMKM.

Ia menilai keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan perlu diterapkan dalam aktivitas nyata agar manfaatnya bisa dirasakan, baik oleh peserta maupun pelaku usaha.

“Keterampilan digital akan jauh lebih bermakna ketika tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata, menciptakan peluang ekonomi, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkap Luqi saat menyampaikan sambutan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulsel.

Menurutnya, PLUT KUMKM Sulsel tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan. Fasilitas tersebut juga menjadi ruang pendampingan dan kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, mitra pembangunan, komunitas, dan pelaku usaha.

Melalui kolaborasi tersebut, penguatan UMKM diharapkan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga memberi ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam ekosistem kewirausahaan yang lebih inklusif.

60 Peserta Belajar Langsung dari Pelaku Usaha

Bagi 60 peserta Micro-Internship, program ini menjadi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti Inclusion Hub Bootcamp ke dalam lingkungan kerja dan usaha yang sesungguhnya.

Para peserta merupakan bagian dari 200 alumni bootcamp yang diseleksi untuk mengikuti program lanjutan bertajuk “Belajar Langsung dari Pemilik UMKM Sulawesi Selatan”.

Mereka dibagi menjadi 10 kelompok dan ditempatkan di 10 UMKM serta perusahaan mitra di Makassar dan sekitarnya. Selama satu bulan, peserta akan mengenal berbagai aspek pengelolaan bisnis, mulai dari operasional usaha, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, pelayanan pelanggan, hingga pengembangan merek dan produk.

Project Manager Inclusion Hub Trio Pabeta Indonesia, Bachtiar Baso, mengatakan Micro-Internship dirancang agar peserta tidak hanya memahami materi pelatihan, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dari pelaku usaha.

“Kami percaya bahwa pembelajaran tidak cukup hanya di ruang pelatihan. Karena itu, melalui Micro-Internship, kami memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar langsung dari praktik usaha nyata. Inclusion Hub bukan hanya tentang pelatihan, tetapi tentang membuka jalan menuju kesempatan ekonomi yang nyata,” kata Bachtiar.

Ia berharap pengalaman selama magang dapat membantu peserta memahami tantangan dunia usaha sekaligus mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri.

Di sisi lain, UMKM mitra juga berkesempatan memperoleh ide, kreativitas, dan perspektif baru dari para peserta, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung perkembangan bisnis.

Kenalkan Produk dan Pemanfaatan Teknologi Digital

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Dominic Jermey bersama Summer Xia dan Luqi Ubaidi Azis Halim menyerahkan secara simbolis kartu dan jurnal magang kepada perwakilan peserta. Penyerahan ini menandai dimulainya program Micro-Internship.

Dominic Jermey juga berdialog dengan sejumlah peserta untuk mendengarkan pengalaman mereka selama mengikuti pelatihan, keterampilan yang telah dipelajari, serta harapan dan tantangan dalam memasuki dunia kerja maupun dunia usaha.

Selain menyaksikan pelepasan peserta, delegasi Kedutaan Besar Inggris dan British Council meninjau kegiatan penguatan literasi keuangan yang dilaksanakan oleh Ruang Kolaborasi Perempuan (RKP).

Dalam kesempatan itu, peserta memperkenalkan produk usaha mereka sekaligus menunjukkan penggunaan teknologi digital untuk mendukung kegiatan bisnis. Pemanfaatan media sosial dan WhatsApp Business menjadi salah satu cara yang digunakan untuk memperluas pemasaran dan menjangkau pelanggan.

Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana keterampilan digital dapat diterapkan secara langsung, baik untuk mendukung kesiapan kerja maupun membantu pelaku UMKM mengembangkan usahanya.

Perluas Akses Kerja dan Peluang Ekonomi

Program Inclusion Hub mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Koperasi dan UKM serta UPT PLUT KUMKM Sulsel. Dukungan tersebut mencakup penyediaan fasilitas, bantuan teknis, dan penguatan jejaring dengan pelaku usaha lokal.

Kolaborasi antara Pemerintah Inggris, British Council, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Trio Pabeta Indonesia, dan dunia usaha diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap pelatihan, pengalaman kerja, serta kesempatan mengembangkan usaha.

Melalui Inclusion Hub dan Micro-Internship, Trio Pabeta Indonesia berupaya mempertemukan talenta digital dengan kebutuhan dunia usaha. Program ini sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda, perempuan, dan penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan dan mengambil bagian dalam pertumbuhan ekonomi digital.

Dengan terjun langsung ke lingkungan usaha, para peserta diharapkan tidak hanya membawa pulang pengalaman baru, tetapi juga memiliki bekal untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja dan membangun peluang ekonomi secara mandiri.

Sempat ke Unhas

Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkuat kerja sama dengan Inggris dalam pengembangan riset dan inovasi lingkungan melalui program ekonomi sirkular. Kerja sama ini mendorong pengolahan sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kerja sama tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Inggris dan menjadi bagian dari upaya mendorong pembangunan rendah karbon yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, mengatakan riset yang dikembangkan perguruan tinggi harus mampu menghasilkan solusi yang dapat diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Bagi Unhas, misinya adalah bagaimana mengembangkan riset untuk mendapatkan solusi-solusi. Jadi, hasil riset itu harus menjadi solusi,” ujarnya usai memperlihatkan lingkungan Unhas di Fakultas Peternakan Unhas, Senin (19/10/2026).

Dominic Jermey CVO OBE, menilai kerja sama dengan Sulawesi Selatan tidak hanya membuka ruang kolaborasi di bidang riset dan inovasi, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan.

Dalam kunjungannya, Dubes Inggris melihat langsung inovasi pengolahan sampah organik yang dikembangkan melalui kolaborasi riset. Ia juga bertemu dengan perempuan dan anak muda yang mendapatkan pelatihan digital melalui program SIDP, serta perempuan dan pegiat konservasi lokal di Maros yang menjalankan upaya perlindungan lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan.

Kunjungan tersebut turut mencakup kawasan prasejarah Leang-Leang, Maros, yang memiliki lukisan gua dan formasi stalaktit. Kawasan ini juga menjadi inspirasi penelitian dan pameran yang didukung British Council dengan melibatkan seniman Inggris, Libby Heaney.

Dubes Inggris berharap, semakin eratnya kemitraan strategis Indonesia dan Inggris dapat memperdalam kerja sama dengan Sulawesi Selatan, khususnya dalam mendorong pertumbuhan hijau, inklusi digital, dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas pemanfaatan hasil riset dalam menjawab persoalan lingkungan. Dengan mengolah sampah menjadi sumber daya bernilai tambah, upaya menjaga lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat.

“Saya harap kunjungan ini dapat memperdalam kerjasama dengan Sulawesi Selatan guna mendorong pertumbuhan hijau, inklusi digital, dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Dominic. (ril)